Hidayatullah.com–Kejayaan saudagar Muslim di Indonesia telah mampu menggerakan perekonomian bangsa Indonesia menjadi jaya. Kini saatnya tekan perjuangan gerakan saudagar muslim ini didorong untuk menguasai tata perekonomian global.
Untuk mengkonkretkan program prioritas 10 Ribu Saudagar Muslim yang diusung sejak 2010, Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI) Orwil Jatim Hari Sabtu, (03/03/2012) menghadirkan pengusaha Muslim Sandiaga S. Uno dalam acara “Silaturrahim Kerja Wilayah (Silakwil) ICMI Jatim.”
Sebagai Direktur Utama Saratoga Capital sekaligus Bendahara ICMI Pusat, Sandiaga S. Uno mengatakan ICMI kini menyiapkan Saudagar Muslim dengan bantu mentoring, modal dan pemasaran. Sandiaga juga memaparkan bagaimana agar menjadi saudagar Muslim menjadi keniscayaan.
”Saya siap membantu wujudkan 10 ribu saudagar Muslim dengan memberikan mentoring atau pendampingan, sumber modal dan pemasarannya,” tegasnya dalam acara Silakwil ICMI Jatim yang juga dihadiri Dr Ilham Habibie ini.
Dalam karirnya, Sandi saat ini sibuk mengurusi PT Saratoga Capital dan tengah aktif dalam bidang investasi.
“Kami sedang berinvestasi di bidang sumber daya alam dan infrastruktur,” aku Sandi.
Sebagai upaya konkret, ICMI Jatim telah membuat gebrakan di tahun pertamanya dengan menggandeng Pesantren Sidogiri, Tebuireng, Kampus IAIN Sunan Ampel, Universitas Negeri Surabaya, dan Universitas Muhammadiyah Malang.
Menurut Ketua ICMI Jatim, Ismail Nachu, ICMI tak hanya bekerjasama, tapi pelatihan bisnis juga telah dilaksanakan. Bahkan untuk menunjang percepatan program telah disiapkan program bagaimana jadi pengusaha Muslim.
Tak hanya itu, klinik bisnis online juga disiapkan di www.saudagarmuslim.co.id atau akses informasi program ICMI dan aktivitasnya di icmijatim.org.
“Jadi pada intinya kita memberi formula dari memberi pelatihannya, konsultasi, mentoring, hingga menjalin kerjasama dengan banyak lembaga dan partner bisnis,” jelasnya,
Secara khusus, pengusaha properti ini mengatakan bila angka 10 ribu saudagar Muslim, memang angka yang besar. Tetapi ia yakin untuk merealisasikannya akan menggandeng banyak lembaga. Seperti NU, Muhammadiyah, pesantren, yayasan, dan ormas lainnya untuk bersama sama melakukan penguatan kepada usaha kecil menengah dan mencetak enterpreneur muda Muslim yang tangguh.
Menurut Ketua ICMI Jatim, Ismail Nahu, problem utama saudagar Muslim adalah mindset, bukan permodalan.
“Problem besar kita untuk menciptakan saudagar Muslim ini bukanlah modal, tetapi mindset yang wajib dirubah dan didesain agar banyak orang berani memilih profesi pengusaha. Kebanyakan orang salah kaprah, pengen jadi pengusaha setelah tua, kepepet, nggak diterima kerja, kena PHK. Seharusnya sejak muda sudah berani memilih profesi ingin jadi pengusaha dan sungguh-sungguh merencanakannya dalam bentuk bisnis plan, ” cetus pria yang akrab disapa Cak Mail ini.
Dalam Silakwil kali ini, sekitar 250 pengurus dari berbagai daerah di Jatim yang hadir bertekad akan lebih memajukan lagi pergerakan ICMI di daerah melalui program kerja yang telah disiapkan. Tidak hanya saudagar muslim, tetapi juga program i-masjid, i-klinik dan memaksimalkan program lama yang sudah berjalan.
Target mendatang ICMI Jatim adalah mereposisi gerakan pemikiran ICMI, mereproduksi nilai-nilai baru, supaya proses kebangsaan terkawal oleh nilai etika dan keberagamaan yang bagus. Diharapkannya, ICMI jadi rujukan persemaian akhlakul karimah di banyak sektor.
Reposisi dan re-branding peran ICMI ke depan harus muncul dalam syiar keindonesiaan, kebangsaan, dan keislaman. Secara khusus sektor ekonomi ummat Islam perlu ditingkatkan agar tidak menjadi penonton di negeri sendiri. Dengan begini, mutu kelas menengah kebawah dan keatas akan meningkat.
Selanjutnya konsolidasi demokrasi akan dapat dipercepat karena minat masyarakat ke politik jadi berkurang. Ini Akan mengurangi fragmentasi politik, dan selanjutnya Akan mendorong konsolidasi demokrasi karena sudah semakin mapan..
Dengan SDM dan jejaring pengurus yang besar, ICMI merasa bangga dengan aset besar berupa pengurus dari latar belakang beraneka ragam yang dimiliki. Di sinilah menurut Ismail kekuatan dahsyat ICMI.*