Hidayatullah.com–Dr Harold Varmus, peraih Nobel dalam studi genetik dasar kanker, saat ini tengah berkunjung ke Indonesia. Dalam lawatannya ini ia memberikan seminar mengenai bagaimana perubahan gen bisa memicu kanker. Selain itu, ia menekankan bahaya merokok terhadap risiko kanker.
Berdasar pengalaman Dr Varmus yang juga tengah menjabat sebagai Direktur National Cancer Institute (NCI) di AS ini, pencegahan kanker merupakan faktor yang sering diremehkan.
Saat ini, NCI memiliki program unggulan pencegahan kanker lewat pengendalian perilaku. Selain itu, jika kanker dapat dideteksi sejak dini, maka kemungkinan kesembuhan pasien akan lebih besar.
Dr Varmus menyoroti salah satu faktor risiko terbesar penyebab kanker di Indonesia, yaitu rokok. Rokok diketahui sangat berisiko menyebabkan kanker, terutama kanker paru.
Hasil penelitian di AS telah menunjukkan bahwa peningkatan konsumsi rokok berjalan seiringan dengan peningkatan kasus kanker, baik pada laki-laki maupun perempuan.
Namun semenjak diberlakukannya peraturan yang ketat mengenai rokok, kasus kanker yang semula naik tajam ini berangsur-angsur menurun. Meskipun demikian, masih cukup banyak juga ditemui warga AS yang tidak mau atau tidak bisa meninggalkan kebiasaan merokoknya. Persentasenya sekitar 21%.
“Adalah sebuah kesalahan jika melarang orang membeli produk tembakau, karena itu akan menyebabkan munculnya pasar gelap dan orang-orang akan tetap mencari rokok secara ilegal. Saya yakin semua orang cukup cerdas, kita jelaskan bagaimana efek merokok bagi kesehatan dan berapa banyak kematian yang diakibatkan,” kata Dr Varmus dalam konferensi pers di auditorium FKUI, Senin (9/7/2012), dimuat Lampung Post.
Dr Varmus menegaskan bahwa aturan-aturan perlu diberlakukan untuk melindungi orang-orang yang bukan perokok dan anak-anak. Semakin tua usia seseorang, maka semakin sulit pula meninggalkan kebiasaan merokok. Maka anak-anak atau remaja yang sudah merokok perlu diberi pemahaman karena kemungkinan untuk menghentikan kebiasaan buruknya ini masih sangat besar.
Bahaya merokok ini benar-benar menjadi salah satu perhatian utama Dr Varmus. Bahkan ia akan menemui Presiden SBY dan Komnas Anti-rokok Selasa (10/7/2012), sebelum kembali ke AS. Intinya ia berupaya memberikan pemahaman bahwa rokok jelas-jelas secara ilmiah dapat memicu kanker dan mendorong diberlakukannya aturan untuk melindungi kesehatan masyarakat.
“Sama seperti di negara kami, membuat orang menyadari bahaya merokok bukan hal yang mudah. Kami tidak melihatnya sebagai hal yang sederhana. Kami memerlukan bukti-bukti dan upaya yang keras untuk menyadarkan masyarakat,” kata Dr Varmus.
Menurut ia, keberadaan lembaga yang ia pimpin, NCI, selama ini selalu bekerjasama dengan Central of Disease Control and Prevention (CDC) di AS untuk menunjukkan bukti-bukti ilmiah bahaya merokok terhadap kesehatan, terutama yang berkaitan dengan kanker.
Dr Vermus berharap hal yang serupa dapat terjadi di Indonesia.*
Keterangan foto: Dr Harold Varmus.