Hidayatullah.com–Fatwa sesatnya Syiah yang dikeluarkan oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur (Jatim) dinilai tidak cukup dalam menyelesaikan permasalahan Syiah di Jawa Timur dan seluruh Indonesia. Karenanya, perlu adanya tindak-lanjut dakwah yang lebih progresif di masyarakat. Demikian disampaikan Dr. Ahzami Samiun Jazuli, anggota Dewan Syuro Ikatan Dai Indonesia (Ikadi) kepada hidayatullah.com, Sabtu (06/10/2012).
Menurut Ahzami, perlu adanya tindak lanjut dakwah yang progresif ke dalam akar rumput masyarakat mengenai sosialisasi kesesatan Syiah ini. Fatwa MUI Jatim dinilai tidak akan maksimal jika hanya dipahami oleh kalangan ulama, intelektual dan aktivis dakwah saja. Ia menilai perlu ada penjelasan di tataran bawah, khususnya pada umat Islam.
“Fatwa dan dakwah itu memiliki kaitan, dalam hal ini tinjauan tindak lanjut dakwah sangat penting untuk diperhatikan,” jelasnya.
Ahzami menilai setelah fatwa MUI Jatim itu keluar, semuanya tidak akan efektif jika dakwah para da’i Islam tidak berhasil menyampaikan alasan relevan tentang apa itu Syiah hinga pada tingkat akar rumput. Sampai hari ini menurutnya, masih banyak elemen umat Islam di akar rumput yang belum paham duduk permasalahan masalah kesesatan Syiah yang difatwakan MUI Jawa Timur itu sendiri.
“Solusinya, pahamkan umat dengan pemahaman Islam yang benar, dengan sumber yang benar yaitu Al Qur’an dan As Sunnah dengan metodologi (cara) dakwah dengan manhaj yang sesuai dengan cara Rasulullah dan para salafus shaleh,” jelas Ahzami lagi.
Menurutnya, Syiah dikenak jago memutarbalikkan kebenaran Islam. Syiah menggunakan dua metodologi dalam pendekatan ke umat yang pertama pendekatan nafsu kedua pendekatan filosofi (filsafat).
Pendekatan nafsu biasanya menjadi pola perekrutan Syiah dikalangan anak muda. Salah satunya adalah memanfaatkan isu nikah mut’ah. Anak muda yang cenderung melakukan seks bebas jelas mudah tertarik dengan Syiah karena nikah mut’ahnya.
Misionaris Syiah dengan mengiming-imingin para remaja bahwa hubungan intim diluar nikah itu termasuk Taqorrub Ilallah (Ibadah kepada Allah) dengan menawarkan konsep mut’ah. Hal ini tentunya menjadi senjata Syiah untuk melakukan perekrutan ditataran akar rumput umat yang sedang mengalami disorientasi hidup.
Kedua, pendekatan filosofi atau filsafat. Syiah sangat mudah merekrut orang-orang yang suka berfilsafat, berlogika bahkan pada kelompok yang sejalan dengan gagasan liberalisme Islam akan menjadi santapan empuk Syiah. Ini dikarenakan Syiah mendepankan tafsir berdasarkan logika dan taqiyah (berbohong demi dakwah Syiah). Syiah bisa bisa membenarkan apa saja termasuk pluralisme agama selama itu menguntungkan strategi politik mereka.
“Fatwa itu perlu, tapi itu tidak cukup, ulama dan para da’i harus terjun langsung (berdakwah) ke akar rumput umat,” tambahnya.*