Hidayatullah.com—Selama dakwah parlemen tidak serius membela aspirasi umat, maka pilihan untuk tidak memilih akan tetap tinggi dari umat Islam, khususnya. Demikian salah satu penilaian Direktur Lembaga Kajian Syariat, Fauzan Al Anshary yang mengaku pesimis dengan gagasan sinergitas umat menjelang Pemilu 2014.
Menurutnya, salah satu kegagalan dakwah parlemen adalah masalah melindungi Peraturan Daerah (Perda) bernafas syariat Islam. Ia menilai 90 persen keberadaan Perda bernafas Syariat dari Aceh, Tangerang, Bandung hingga Makassar dan kota-kota lain di Indonesia justru diperjuangkan oleh ormas Islam yang menolak demokrasi, bukan di parlemen.
“Nyatanya ormas-ormas Islam itu bisa memperjuangan Perda Syariat tanpa pemilihan umum,” jelas Fauzan Al Anshary kepada hidayatullah.com, Kamis (07/02/2013).
Sebaliknya menurut Fauzan, Perda-perda itu pada akhirnya dibatalkan oleh pemerintah, tetapi partai-partai yang menyebut diri Islam, dinilai tak memperjuangkan.
“Sekarang banyak Perda yang mewakili syariat dibatalkan oleh Menteri Dalam Negeri, partai-partai Islam mana suaranya? kok mereka tidak membela Perda itu?” tambahnya lagi.
Menurut Fauzan, wacana sinergitas ini adalah wacana yang jauh panggang daripada api. Mengapa demikian? Ia menilai selain masalah ketidakseriusan membela umat, banyak anggota legislatif dari elemen partai Islam bergaya hidup yang tidak bisa jadi panutan.
“Kemewahan hingga politik kompromi tidak akan pernah mampu membuat umat percaya pada keseriusan dakwah parlemen,” tegasnya.
Karenanya ua berharap jika memang wacana sinergitas umat itu mau digulirkan, maka itu juga tergantung dari keseriusan dakwah parlemen dalam memperjuangan aspirasi umat dan penegakan syariat Islam.
“Bisakah sebuah partai Islam di dalam parlemen berteriak Islam adalah Islam tanpa banyak pembenaran, sebagaimana Masyumi dulu?” tambah fauzan lagi.*