Hidayatullah.com–Dua pekan lebih pasca banjir bandang yang melanda Manado, Sulawesi Utara (Sulut) dan daerah sekitarnya, bantuan kepada para pengungsi cukup baik, namun dinilai belum merata. Umat Islam di Manado pun dianggap kurang perhatian.
“Bantuan logistik cukup, dan yang sangat diperlukan tenaga pembersihan kampung dan tempat-tempat umum. Kondisi pengungsi relatif baik,” jelas Murdianto, Ketua Tim Search and Rescue (SAR) Hidayatullah kepada hidayatullah.com melalui BlackBerry Messenger (BBM), Kamis, (30/01/2014).
Persoalan bantuan tersebut, jelas Murdianto, terungkap dalam “Pertemuan Keluarga HFI (Humanitarian Forum Indonesia)” di Posko Muhammadiyah, Panti Asuhan Darussa’adah, Jalan Arie Lasut 11, Ternate Tanjung, Lingkungan 2, Kecamatan Singkil, Manado, Rabu malam.
“Semalam rapat bersama tim relawan yang beroperasi di Manado, masa tanggap darurat diperpanjang 14 hari ke depan. (Saat ini) sampah masih menggunung di beberapa tempat. Memang sudah banyak truk dan alat berat, (namun) luasnya cakupan daerah sampah membuat penanganan seolah lambat,” jelas Murdianto.
Beberapa hasil evaluasi dalam rapat itu, menumpuknya bantuan di satu wilayah, sementara di wilayah lain belum terjangkau sama sekali, baik tenaga medis dan bantuan lain.
Di antara daerah yang sudah tersalurkan bantuan adalah Paal IV, Paal II, Karombasan, Kairagi, Malendeng, Ketang Rernate Baru, Kampung Tubir, Tanjung, Komo Luar, Dendengan Dalam, Istiqlal, Kanaka, dan lain-lain.
“Yang dilapor relawan daerah yang belum (dapat bantuan) beberapa lingkungan di Kampung Merdeka, utamanya yang sulit dijangkau relawan namun banyak warganya,” jelas Murdianto.
Didampingi Pendeta
Evaluasi kedua dalam pertemuan itu, lanjutnya, yaitu perlu adanya pusat informasi relawan. Ini untuk mengantisipasi informasi yang tak jelas.
“Pernah ada isu tsunami hingga membuat pengunjung Hypermart berhamburan,” lanjutnya.
Pertemuan tersebut dihadiri semua lembaga bantuan swasta, di antaranya PKPU, MDMC Muhammadiyah, Dompet Dhuafa, dan beberapa lembaga Kristen.
Dikatakan, pada pertemuan tersebut lembaga-lembaga kemanusiaan Kristen melaporkan kinerjanya selama ini. Mereka mengaku telah menyalurkan bantuan senilai miliaran rupiah. Seperti membagi-bagikan family kit, school kit, dan lain-lain yang jumlahnya ribuan paket.
Sementara nilai bantuan dari umat Islam, ungkapnya, sudah ada namun nilainya kecil. Sebab, menurutnya, secara ekonomi kesadaran masyarakat Muslim di Manado masih kurang. Selain itu, Manado juga dihuni mayoritas non-Muslim.
“Mungkin kantong pemukiman kaya seperti kampung Arab juga terdampak banjir,” lanjut Murdianto.
Dalam menyalurkan bantuan pun, ungkapnya, rata-rata para tim relawan, baik Muslim maupun non-Muslim didampingi pendeta. Bahkan, katanya, ketua relawan Kristen juga pendeta,”
HFI adalah semacam wadah organisasi lembaga kemanusiaan swasta berskala international, diketuai Pendeta Victor Lembek, pungkas Murdianto.
Seperti diketahui, Pemerintah Kota Manado memperpanjang status tanggap darurat bencana yang seharunya sudah berakhir pada Rabu (29/01/2014).
Status tanggap darurat bencana tersebut terhitung mulai tanggal 30 Januari hingga dua pekan mendatang. Perpanjangan ini karena kondisi Manado belum pulih pasca diterjang banjir, Rabu (15/1/2014) lalu.*