Hidayatullah.com–Masih ingat dengan Pong Harjatmo? Pemanjat Gedung Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI beberapa waktu silam ini kembali beraksi. Kali ini yang dipanjat adalah panggung orasi aksi umat Islam di depan Istana Negara, Jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta Pusat, Jumat, 14 Rabiul Akhir 1435 H (14/2/2014).
Di depan ratusan massa, Pong Harjatmo menyampaikan kata-kata yang pernah dia tulis di atap gedung DPR pada 2010 lalu, yaitu “Jujur, Adil dan tegas”. Kata-kata ini tertulis pada baju kaos oblong putih yang dikenakannya sore itu. Dia pun menjelaskan maksud kata-kata tersebut.
“Masih ingat 3 tahun lalu, saya yang manjat DPR, saya tulis ‘Jujur, Adil, Tegas’. Itu pakai pilok. (Maksudnya) jujur adalah amanah, adil adalah imbang, jadi harus imbang. Tegas, tidak pandang bulu. Meskipun anak kita (terjerat) narkoba, tangkap!” ujar aktor senior ini berapi-api.
Pada aksi damai itu, Pong turut mendukung massa yang mengkritisi kebijakan pembebasan bandar narkoba Schapelle Leigh Corby. Dia menilai, tindakan Presiden SBY memberi Corby grasi sebagai bentuk pengrusakan Indonesia.
“Musuh kita, siapa pun yang merusak negeri ini. Kalau bandar narkoba dibebasin, itu yang bajingan siapa sih? Kalau ada orang korupsi terus dikasih grasi, itu yang bajingan siapa sih? Kita tidak sadar, pemimpin-pemimpin ini sudah jadi jongosnya kapitalis, tukang jilat kapitalis,” sindirnya penuh semangat di depan ratusan massa FPI dan GARIS.
Pong lantas menyindir kebijakan pemerintah yang masih saja melakukan impor berbagai produk pangan, sandang, dan papan. Pong pun menyindir pemerintah yang tak kunjung memberesi rumah-rumah di berbagai bantaran sungai.
“Katanya mau mensejahterakan rakyat, (tapi) pakaian bekas saja impor. Rumah yang kumuh-kumuh di bantaran sungai tidak cepat-cepat dibenerin. Tapi kalau rumah mewah, yang bangun siapa? Kerja sama dengan pemerintah,” ketusnya disambut koar massa.
Sindir Akil dan Anas
Selain menyindir pemerintah, Pong juga menyindir para penegak hukum di Indonesia. Misalnya kasus tertangkapnya Ketua MK Akil Mochtar oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Akil yang juga tersangka kasus narkotika ini dituding oleh Pong sebagai pengguna narkotika.
“Ya wong Ketua MK kok ngobat juga?! Tapi hati-hati, sebentar lagi dibebaskan juga tuh Ketua MK. Ketua MK korupsi juga. Hati-hati, sebentar lagi diberi grasi tuh,” sindirnya.
Mantan Ketua Umum Partai Demokrat, Anas Urbaningrum juga tak lepas dari sorotan Pong. Pong menilai, Anas sepatutnya digantung di Monas jika terbukti korupsi.
“Anas ntar kalau dia ditetapkan jadi tersangka, dia digantung di sini (Monas). Itu permintaan Anas juga,” ujarnya seraya menunjuk tugu Monas yang berjarak sekitar 100 meter dari istana.
Pong tak lupa berpesan kepada para peserta unjuk rasa tidak memusuhi polisi. Sebab, menurutnya, polisi adalah mitra rakyat.
“Jadi kalau demo, jangan anarkis, harus tertib. Yang penting aspirasi kita tercapai. Tapi (polisi. Red) jangan belagak juga, jangan over acting juga,” pesan pria yang pernah diamankan di pos polisi dekat gedung DPR akibat aksinya pada 2010 lalu.
Seperti diketahui, Pong dua kali memanjat atap gedung kura-kura DPR, Jakarta. Pada aksi pertamanya, Jumat (30/7/2010), Pong mengaku kecewa dengan Pansus Hak Angket Century di DPR. Pada aksi keduanya, Senin (30/7/2012), Pong beralasan, tuntutannya yang ditulis di atap Gedung DPR yakni ‘Jujur, Adil, dan Tegas’ tidak dilaksanakan para wakil rakyat.*