Hidayatullah.com–Selain marak dengan praktek perzinaan, praktek kemusyrikan pun menjamur di lokalisasi Dolly.
Para mucikari dan wanita tuna susila (WTS) Dolly dikenal cukup akrab dengan praktek perdukunan. Alasan mereka datang ke dukun cukup beragam, mulai demi meningkatkan pendapatan sampai menyingkirkan pesaing.
Setiap wisma prostitusi di Dolly misalnya, lazim memiliki altar sesajian. Keterangan ini dihimpun Tim Jurnalis Islam Bersatu (JITU) yang terjun ke lokaliasi terbesar menjelang ditutup Pemerintah Kota Surabaya tanggal 18 Juni, besok.
Ngadimin Wahab (60) alias pak Petruk, anggota Ikatan Da’i Area Lokalisasi (IDIAL) yang juga berprofesi sebagai juru ruqyah di Dolly memberikan keterangan menarik.
“Praktek kemusyrikan di Dolly memang marak, saya pernah menangani kasus pelacur yang di guna-guna (santet) oleh suaminya sendiri,” papar pak Petruk di rumahnya kepada tim JITU, Selasa (17/06/2014).
Dari pemaparan pak Petruk, Tim JITU mendapat informasi bahwa banyak wanita yang dijual ke Dolly oleh suaminya sendiri.
Wanita-wanita ini biasa dijual seharga 2 juta rupiah. Selesai dijual, biasanya para suami ini akan meminta setoran hasil pelacuran istri-istri mereka.
“Wanita ini diguna-guna oleh suaminya sendiri agar tidak kabur dari Dolly dan terus menjadi sapi perah,” ungkap pak Petruk dengan nada sedih.
Untuk memerangi praktek kemusyrikan di Dolly, dalam setiap kesempatan, pak Petruk selalu mendakwahkan pentingnya bertauhid.
“Biasanya saat saya meruqyah selalu saya sampaikan kepada mereka (WTS) untuk bertaubat dan memperbaiki keimanan dan tauhid,” ujar pak petruk.*/ [surya,eza/JITU]