Hidayatullah.com–Kebangkitan Islam merupakan pencapaian terbesar umat. Namun, itu tidak mungkin terwujud jika umat ini tidak memperhatikan hal-hal yang seringkali dianggap remeh-temeh.
Demikian disampaikan Sekjen Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI), Bachtiar Nasir, yang baru saja datang dari Turki guna menghadiri menghadiri Konferensi Ulama Dunia di Turki, 20-23 Agustus 2014 lalu.
Menurutnya, Turki makin cemerlang ketika tata negaranya kembali mengacu pada Al- Quran. Di sana, pendirian gedung-gedung khusus belajar Al-Quran, tumbuh subur. Pengelolaannya tidak main-main.
Salah satunya, Cinar Boarding School yang dikelola laiknya manajemen hotel berbintang lima. Seusai lalu, Bachtiar menyempatkan berkunjung ke beberapa sekolah penghafal Al Quran di sana, termasuk Cinar.
“Gedungnya dua kali lebih panjang dan dua kali lebih besar dari AQL, khusus untuk belajar ngaji saja. Selama setahun, santri menghafal Quran dari nggak bisa sampai bisa, belajar fikih, ushul fikih. Gratis,” jelas pimpinan AQL Islamic Center itu.
Pengelolaan serius lembaga pendidikan ini sudah terlihat mulai jejakan kaki pertama. Sebelum melangkah masuk ke dalam gedung, para pengunjung harus melepas sepatu atau sandal untuk digantikan dengan alas kaki khusus yang sudah disiapkan. Sepatu tidak terlihat berantakan karena petugas langsung memasukkan ke dalam loker-loker yang berjajar.
Hamparan karpet tebal mengisi hampir seluruh ruangan di sana. Tidak hanya ruang kelas, di dalam gedung Cinar juga terdapat asrama para santri.
Lalu, bagaimana dengan toilet?
Penasaran ingin tahu, Bachtiar bertanya pada petugas disana. Di sinilah terlihat keseriusan umat Islam Turki menjaga kebersihan.
Menurutnya, mereka kembali membedakan alas kaki. Sandal khusus toilet juga sudah tersedia.
“Saya masih berkaus kaki saat masuk dan tetap bersih setelah keluar toilet,”katanya pada acara silaturahim dengan jamaah AQL pekan lalu.
Kebersihan dan kerapihan juga diterapkan oleh sekolah tahfidz berusia ratusan tahun, Sekyhul Islam Mustafa Efendi Parki.
Dengan pengelolaan yang apik, gedungnya justru terlihat eksotik. Sekolah ini pernah dihancurkan saat pemerintahan Kemal Ataturk. Gedungnya dibangun ulang oleh pemerintahan Recep Tayip Erdogan.
Para siswanya berdatangan dari seluruh dunia, termasuk Indonesia. Tahun ini, diantara 33 santri yang tinggal di sana, ada satu orang siswa asal Indonesia.
Bachtiar menambahkan, apa yang ditemuinya di Turki, juga bisa dilakukan umat Islam di Indonesia.
Perjuangan umat bisa dimulai dari kebersihan toilet masjid.
“Kalau di Indonesia, gampang cari toilet. Tinggal cari dari baunya. Makin kenceng bau pesingnya, berarti sudah dekat,”selorohnya disambut tawa jamaah.
Di dalam kitab fikih, penjabaran tentang bersuci atau thaharah berada pada bab pertama. Itu mengindikasikan, kebersihan adalah hal utama bagi umat Islam sebelum melaksanakan ibadah lainnya.
“Kalau thaharahnya nggak lulus, nggak usah ngomong soal jinayat (sanksi-sanksi yang dijatuhkan atas penganiayaan jasmani)! Hafalan Quran-nya banyak, tapi kencingnya sembarangan, percuma, ” katanya.
Itu semua mampu terwujud ketika umat Islam berkomitmen kuat membangun agamanya dengan harta dan jiwa. Seperti Cinar yang mampu menampung ribuan santri dengan fasilitas hotel berbintang karena sokongan dana zakat dan infak masyarakat Turki.
“Mari kita bekerja dan bekerjasama untuk Islam! Al ‘amal al Islam komponennya dua: mengerjakan proyek Islam dan caranya menggunakan cara Islam,”pungkas lulusan Universitas Islam Madinah, Arab Saudi itu.*