Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Nasional

Ini Faktanya, Kenapa Anda Harus Mengangkat “Senjata Pena”

Muhammad Abdus Syakur
Terakhir diupdate: 3 Juni 2016 13:52 1:52 pm
Muhammad Abdus Syakur
Dipublikasikan 3 Juni 2016 13:52
Bagikan
[Ilustrasi] Penulis Muslim.
Bagikan

Hidayatullah.com– Lumrah diketahui, masih banyak orang yang enggan menjadi penulis. Padahal, fakta-fakta yang terpampang saat ini sudah cukup menjadi alasan untuk siapa saja mulai menulis.

Demikian diungkapkan Pemred Kelompok Media Hidayatullah (KMH), Mahladi, dalam acara Kunjungan Studi Jurnalistik Forum Komunikasi Mahasiswa LIPIA se-Sulawesi (FORMALIS) di kantor KMH, Jl Cipinang Cempedak 1/14, Polonia, Jakarta.

Perang Opini

“Fakta pertama, bahwa kita ini sedang berperang, tidak ubahnya seperti (di) Suriah dan Gaza (Palestina),” ungkapnya, Kamis, 26 Sya’ban 1437 (02/06/2016).

Namun, kata dia, perang di Indonesia berbeda dengan perang di negara-negara konflik seperti di Timur Tengah.

Baca Juga

Lukmanul Hakim MUI wafat
KH Dr. Lukmanul Hakim, Pejuang Ekonomi Umat yang Berpulang
Layanan SIHALAL Bermasalah, ALPHI Minta Dikembalikan Ke Sistem Lama
LPPOM Bersama ALPHI Kupas Tuntas Tarif dan Waktu Proses Sertifikasi Halal
PAD Kota Depok Meningkat Tanpa Iklan Rokok
Pembukaan Silatnas 2023, Pj Gubernur Kaltim Puji Kiprah Dai – Daiyah Hidayatullah

“Yang paling mungkin di negara ini perang bukan dengan senjata. Yang paling memungkinkan saat ini adalah perang opini, itulah jihad kita,” ujarnya.

Ia menjelaskan, perang opini dimaksud terutama melalui berbagai media massa maupun media sosial. Yaitu perang opini dan pemikiran antara kebenaran versus kebatilan.

Kebebasan Informasi

Fakta kedua, jelas Mahladi, bahwasanya saat ini adalah eranya kebebasan informasi yang luar biasa.

Semasa dia belum jadi wartawan, karya tulisnya sangat susah dimuat di media massa. Sering ditolak. “Akhirnya jadi koleksi saja. Paling nggak tampil di majalah dinding sekolah,” tuturnya mengenang.

Itu dulu. Tapi sekarang, kata dia kepada para mahasiswa, “Kebebasan informasi membuat kita semua ini jadi ‘wartawan’.”

Caranya, kata dia, sangat gampang. Di era kecanggihan teknologi, lumrah diketahui, masyarakat berbagai kalangan bisa sangat mudah melakukan reportase layaknya wartawan profesional. Hasil reportase itu pun dengan mudahnya dipublikasikan lewat berbagai media sosial.

“Sehingga, kalau media massa saat ini dikuasai musuh, dimana peran kita?” ujarnya memantik semangat para mahasiswa.

Dalam dunia tulis-menulis termasuk perbukuan, menurutnya, penulis Muslim masih kalah produktif dibanding penulis non-Muslim. Sebagai contoh, hal itu bisa dilihat pada karya-karya tulis di toko buku terkenal di negeri ini.

Tak heran jika pemikiran-pemikiran yang merusak agama melalui tulisan, seperti disadari bersama, kini begitu merebak.

Seharusnya, kata dia, fakta itu bisa mengundang para mahasiswa untuk mengimbanginya dengan turut menjadi penulis buku.

Studi Jurnalistik FORMALIS di kantor KMH, Jakarta. [Foto: Muhtadin]
Studi Jurnalistik FORMALIS di kantor KMH, Jakarta. [Foto: Muhtadin]
Tugas Dakwah

Ini fakta ketiga yang disampaikannya. Bahwa sudah menjadi tugas setiap Muslim untuk berdakwah, mengajak siapa saja untuk menjalankan syariat Islam.

Dalam dakwah, memengaruhi orang yang didakwahi itu penting. Agar berhasil memengaruhi orang, jelas Mahladi, maka berdakwah harus pakai strategi. Begitu pula dakwah lewat tulisan.

“Mana mungkin berhasil mengajak orang jika tulisan kita amburadul. Kalimat pertama saja sudah tak beraturan,” ujarnya mencontohkan.

Karena itulah, ia berpesan, para pendakwah termasuk mahasiswa LIPIA perlu berlatih tulis-menulis.

Mereka pun diimbau untuk menguasai teknis menulis yang benar dan bagus. Di antaranya dengan rajin mengikuti pelatihan, termasuk seperti acara Studi Jurnalistik FORMALIS tersebut.

Melihat fakta-fakta di depan mata itu, kata dia kepada para mahasiswa, “Kita juga tidak bisa diam.” Jika mahasiswa mengangkat “senjata pena” sebagai pembela Islam, maka itu dinilai sebagai bentuk pertanggungjawabannya kepada Allah bahwa ia telah berjihad. [Baca juga: Mahasiswa LIPIA Belajar Jurnalistik ke Hidayatullah Media]*

Redaktur: Muhammad Abdus Syakur
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:ilmu kepenulisanJurnalistikKelompok Media HidayatullahLIPIAMahasiswa MuslimMedia massamedia sosialpena
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Ramadhan Fokus Membangun Akhlaq dan Tauhid Anak
Tulisan selanjutnya WiFi di Kedai Kopi Ini Password-nya #Prayforsyria

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik

Berita
18 Juli 2026 10:26
Sering Menyakiti Kakek 95 Tahun yang Dirawatnya, ART Indonesia Dihukum Bui 18 Bulan di Singapura
INDEF: Bank Emas Berpotensi Besar Dorong Keuangan Syariah, Indonesia Masih Belum Tergarap
Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait
Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang

Terbaru

  • Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang
  • Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air
  • Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik
  • China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat
  • Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait
  • Sumber Militer Suriah Bantah Iran Membom Pangkalan Al-Tanf
  • Permohonan Legalisasi Ganja untuk Keperluan Relijius oleh Komunitas Rastafarian Ditolak Pengadilan Kenya
  • Minum Obat Penggugur Kandungan Wanita Indonesia Dihukum 5 Tahun Penjara di Sarawak
  • Seribu QRIS Personal Sudah Disebar, DPP Hidayatullah Siap Masifkan Gerakan Subuh Bersedekah
  • Hidayatullah Luncurkan Aplikasi Gerakan Sedekah Subuh, Perkuat Ekosistem Filantropi Islam Berbasis Digital

Mungkin Anda Juga Suka

BeritaBerita dari AndaNasional

Workshop Tenun dan Tudung Manto untuk Santri dan Masyarakat Lingga

6 November 2023 08:51
BeritaLensaNasional

Investasi LM Antam untuk Pendidikan Anak

13 September 2023 11:00
BeritaLensaNasional

[Foto] Belajar Gosok Gigi yang Benar

29 Juli 2023 07:00
BeritaNasional

Dukung Kegiatan PFI, Eri Cahyadi Tawarkan untuk Pameran Foto Berikutnya

14 Mei 2023 07:35
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?