Hidayatullah.com– Pimpinan Pondok Pesantren Daarut Tauhiid Bandung, KH Abdullah Gymnastiar (Aa Gym), menjelaskan, keikutsertaannya pada Aksi Bela Islam II di Jakarta karena panggilan hati.
Ia pun mengungkap, kehadirannya bersama ribuan santri dan relawan pada aksi damai 4 November itu dengan biaya sendiri.
“Ini bergerak, ngongkos sendiri, semua ini masalah hati, Pak,” ujarnya di Jakarta, Selasa (08/11/2016) malam, dalam acara Indonesia Lawyers Club (ILC).
Bahkan, ungkap Aa Gym, selain ongkos sendiri, biaya operasional timnya dalam aksi tersebut juga banyak berasal dari sumbangan masyarakat berbagai kalangan.
“Dan untuk ngumpulin uang, gampang sekali itu, Pak. ‘Ayo siapa yang mau nyumbang?’ Waduh, itu dari mana-mana (datang menyumbang),” ungkapnya pada acara siaran langsung sebuah stasiun TV swasta itu.
“Ada yang bawa celengan, ada ojek ‘saya nyumbang Rp 10 ribu ya, Aa (Gym), supaya dicatetkan oleh Allah bahwa saya termasuk yang peduli dengan urusan ini’,” tuturnya.
Ada pula, ungkap Aa Gym, seorang bapak yang tak bisa ikut aksi karena punya tugas mengantar anak setiap pagi. Tapi pria tersebut ingin turut berpartisipasi dengan menyumbang uang untuk Aksi 411 itu.
“Wah, ini amazing. Jelas, Pak, amazing, Pak? Menakjubkan gitu, Pak!” ujarnya sedikit berseloroh disambut tawa ringan peserta diskusi itu.
Dananya Jadi Surplus
Aa Gym pun mengaku, dana sumbangan itu jadi surplus sekarang.
“Mau kita apain ini uang kelebihan ya? Bis 20 kebayar, makanan (juga terbayar),” ungkapnya.
Aa Gym mengatakan, ia mengirimkan santri atau relawannya sebanyak 1.500 orang untuk berpartisipasi dalam aksi tersebut. Mereka bertugas khusus sebagai relawan kebersihan.
“(Mereka) dilengkapi dengan pengki. Tahu pengki, Pak? Sapu lidi dan kantong kresek,” ujarnya agak bercanda seraya menghadap ke arah Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo dan Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian yang duduk pas di samping kirinya.
Bahkan, kata Aa Gym, jika tidak dibatasi, relawan yang ikut aksi lewat pendaftaran yang ia buka itu bisa 10.000-an orang.
Aa Gym mengatakan ia menjadi saksi bahwa Aksi Bela Islam II tersebut berjalan penuh damai dan tertib.
Aksi tersebut merupakan lanjutan aksi publik menuntut agar Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) diproses hukum secara adil.*