Hidayatullah.com– Kamis (09/03/2017) kemarin, ramai beredar berita bohong (hoax) di sejumlah media arus utama (mainstream) dan media sosial yang menyebut seorang wanita Inggris sebagai ‘putri Arab Saudi berbusana penari Bali’.
Hoax tersebut diketahui bersumber dari unggahan di media sosial Facebook oleh pengguna internet (netizen) yang sempat mengira seorang wanita Inggris pelanggan rumah spa-nya merupakan putri Raja Salman bin Abdul Aziz Al-Saud. Rombongan Raja Arab Saudi ini memang tengah berlibur di Pulau Bali.
Baca: Hoax, Berita ”Puteri Arab Saudi” Berpakaian Penari Bali
Pada hari yang sama, Kamis, Perum Lembaga Kantor Berita Nasional (LKBN) Antara berkomitmen untuk ikut memerangi kabar bohong yang belakangan marak beredar di media sosial.
“Di sini lah peran media termasuk Antara untuk membantu memfilter dan meluruskan banyak hal yang disebarkan tanpa landasan informasi dan akurasi maupun kebenaran sama sekali,” ujar Direktur Utama Perum LKBN Antara, Meidyatama Suryodiningrat.
Hal itu ia sampaikan saat ditemui usai memberikan sambutan pada pertemuan dewan direktur 14 kantor berita Asia Pasifik atau AsiaNet di Nusa Dua, Kabupaten Badung, Bali, Kamis kemarin, lansir laman resmi kantor berita itu.
Terkait ‘112’, Sejumlah Stasiun TV Diungkap Beritakan Hoax di Hari Pers
Menurut Meidyatama, era digitalisasi saat ini turut melahirkan media-media sosial yang bergerak cepat di masyarakat.
Media sosial, lanjut dia, belum memiliki parameter yang jelas seperti yang selama ini berlaku untuk media massa, baik cetak maupun elektronik, seperti adanya kode etik dan rambu yang jelas hingga Dewan Pers.
Sehingga informasi yang beredar di media sosial terkadang tidak akurat dengan konten yang tidak bertanggung jawab.
Untuk itu, media tradisional yang ada saat ini diharapkan ikut berkontribusi memerangi hoax, dengan meluruskan informasi yang menyimpang, menyajikan informasi yang baik dan benar sesuai fakta, akurat serta berimbang.
Hoax Muncul Akibat Hilangnya Kredibelitas terhadap Media Mainstream
LKBN Antara, lanjut dia, juga mendukung adanya deklarasi antihoax sebagai gerakan evolusi dan langkah penyadaran kepada masyarakat untuk ikut memfilter kabar bohong.
“Masing-masing individu diberikan pengertian, pembelajaran, dan rasa tanggung jawab terhadap segala hal yang mereka unggah. Kami sama sekali tidak mengadvokasi pengekangan kebebasan berekspresi, tetapi setiap orang saat berekspresi juga harus bertanggung jawab,” imbuhnya.*