Hidayatullah.com– Direktur Lembaga Kaligrafi Alquran (Lemka) Didin Sirojuddin menjelaskan, ada dua sifat kaligrafi. Yang pertama sifatnya fungsional. Maksud fungsional adalah mudah dibaca seperti tulisan yang ada di dalam al-Qur’an.
Dan yang kedua, jelasnya, sifatnya keindahan.
“Kalau sudah sampai di sini dan kita sulit membaca, wajib kita untuk mempelajarinya. Harus belajar, karena macam-macam jenisnya, gayanya, mazhabnya berbeda-beda,” ucapnya.
Hal itu disampaikan dalam diskusi seni yang membahas “Kaligrafi Islam di Indonesia”, Selasa kemarin, pada rangkaian pameran seni kaligrafi di Galeri Cipta II, Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat. Pameran berlangsung pada 20-31 Mei 2017.
Baca: Pameran Kaligrafi Gelaran IKJ-Lemka, Tafakur Pasca Pilkada DKI
Sementara, Ilham Khoiri, lulusan S-2 Seni Rupa Institut Teknologi Bandung (ITB), menambahkan, memang tidak semua kaligrafi dibuat untuk dibaca. Tujuan awal membuat kaligrafi, terutama yang rumit, menurutnya adalah untuk keindahan.
“Kenapa keindahan itu harus diciptakan dengan rumit? Karena kadang-kadang dalam kerumitan itu ada keindahan,” filosofi yang diterangkannya juga dalam diskusi itu.
Untuk kaligrafi jenis ini, kalau sulit dibaca, dia menyarankan bertanya langsung ke pelukis atau belajar kaligrafi.
Baca: Inilah Profil Abu Bakar Chang, Seniman Kaligrafi Tiongkok yang Pamerkan Karya di Jakarta
Lebih lanjut, Ilham memandang, karya-karya seni kaligrafi relatif terpinggirkan dalam kancah seni rupa.
Karenanya, kata Ilham, hendaknya itu menggoda masyarakat untuk lebih getol dan serius lagi menjadikan kaligrafi sebagai salah satu pilihan untuk berekspresi, yang dinilai setara dengan ekspresi instalasi, performance art, lukisan kontemporer, dan lain sebagainya.
“Itu bisa setara kalau kita bisa menjadikannya relevan (dengan) kehidupan nyata sehari-hari,” katanya.
Ilham menilai, kaligrafi jadi menarik bila dikaitkan dengan isu-isu sekarang. Terlebih, ujarnya, Islam dicitrakan keras dan distigma dengan terorisme.
“Kaligrafi bisa tampil untuk membawakan sesuatu yang lebih lembut. Lebih meredam gejolak itu. Dan kalau kita menggambarnya, bahwa untaian kalimat, warna, dan lain sebagainya mungkin kita akan merasa oh ternyata kita juga bisa menemukan kedamaian,” ucapnya.* Andi