Hidayatullah.com– Pengamat dari Indonesian Crime Analyst Forum (ICAF) Mustofa Nahrawardaya mengatakan, perilaku massa yang membakar MA, terduga pencuri amplifier (alat pengeras suara) sebuah mushalla di Bekasi, Jawa Barat, tidak bisa dikaitkan dengan sifat pemeluk agama tertentu.
Menurutnya, rata-rata massa memang jengkel terhadap pelaku pencurian. Tidak peduli apakah mencuri di tempat ibadah, kantor, rumah, dan sebagainya.
Mustofa menambahkan, jika seorang pencuri sudah ada di tangan massa, apalagi disertai dengan barang bukti. Maka akan sulit memprediksi nasib si pencuri tersebut.
Terlebih, sambungnya, nasib pencuri di tangan massa yang marah akan fatal jika polisi atau petugas tidak segera datang. Nyawanya terancam.
“Jangankan pencuri ketangkep massa. Kadang, pencuri yang udah diamankan polisi saja, masih diserang massa yang marah. Brutal,” tulis Mustofa melalui akun Twitternya, Selasa malam (08/08/2017).
Mantan wartawan kriminal ini menjelaskan, dalam psikologi massa, ketika menghakimi pelaku pencurian, massa tidak akan bertanya pada pencurinya apakah punya anak kecil atau tidak. Punya istri hamil atau tidak, massa tidak peduli.
“Itulah tipikal sebagian massa yang biasanya sulit terkontrol jika menghadapi pencuri tanpa ada aparat. Brutal dan sadis,” ungkapnya.
“Sekali lagi, tidak ada kaitan antara tipikal orang Islam dengan kekerasan menghadapi penjahat. Mereka tidak kenal agama,” tegas Mustofa.
Baca: Pembakaran Warga, Diduga Dampak Sering Absennya Penegakan Hukum
Apalagi, terangnya, dalam kasus MA, terduga ditangkap dan dihakimi massa sekitar 7 kilometer dari mushalla tempat diduga hilangnya amplifier.
“Rasanya berlebihan. Atau lebay (jika dikaitkan ‘Aksi Bela Islam’). Mohon Maaf. Terlalu jauh dan sulit dicari tali penyambungnya,” pungkas Mustofa lewat akunnya @NetizenTofa.*