Hidayatullah.com– Ini cerita dari Aksi Bela Rohingya yang digelar pada pekan kemarin di kawasan silang Monas, dekat Patung Kuda, Jakarta Pusat.
Ada yang berbeda saat aksi peduli kemanusiaan gelaran Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dan banyak elemen lainnya itu.
Sesaat setelah orasi dari berbagai ormas, aksi ini diselingi pembacaan puisi dan pernyataan kesaksian dari dua orang bocah yang tampak anggun dengan jilbab yang mereka kenakan.
Kedunya merupakan bocah etnis Rohingya yang mengungsi ke Indonesia.
Saifan Karimullah (8 tahun) dan Nur Hasna, dua bocah malang yang berasal dari Arakan alias Rakhine, Myanmar, itu, termasuk pencari suaka di Indonesia.
Baca: 1100 Anak Rohingya Kehilangan Orang Tua, Puluhan Pengungsi lainnya Mati lemas
Pantauan hidayatullah.com, tampak keduanya berdiri dengan orangtua yang mendampinginya. Saifan dan Nur masing-masing memegang selembar kertas bertulisan.
Keduanya pun, Sabtu (16/09/2017) itu, di atas panggung orasi mulai membacakan bait demi bait tulisan pada kertas tersebut.
Inilah isi ungkapan Nur:
“Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Nama saya Nur Hasna umur 7 tahun, saya Rohingya yang ada di Indonesia.
Saya minta tolong kepada pemerintah dan rakyat Indonesia. Tolong selamatkan saudara-saudara kami yang dibunuh, dibakar, dipotong, ditembak, dan diperkosa oleh para tentara Myanmar yang kejam dan biadab.
Maka kami minta tolong selamatkan-damaikan saudara-saudara kami yang ada di Arakan.
Takbir-Takbir. Terima kasih.
Wassalam warahmatullahi wabarakatu.”
Baca: Kesaksian Wartawan BBC Melihat Desa-desa yang Dibakar di Rakhine
Sedangkan pada kertas yang dibawa Saifan, pesannya disampaikan secara poin per poin:
“1. STOP Genosida.
2. Adil untuk Rohingya.
3. Jangan potong keluarga kami Rohingya.
4. Jangan bakar rumah-rumah dan masjid.
5. Jangan keluarkan dari Arakan, Myanmar.
6. Kami asli dari Arakan.
7. Jangan bakar keluarga kami.
8. Pemerintah Myanmar potong anak-anak, bakar anak-anak, balita, dan ibu.”
Tepat di belakang keduanya, tampak Presiden PKS Sohibul Iman tak henti-hentinya menghapus air matanya yang sembab, sesekali ia menatap anak itu dengan wajah sedih.
Baca: Catatan Kekerasan Militer Myanmar terhadap Etnis Rohingya Hari ke 4
Sementara itu, pantauan hidayatullah.com, para peserta aksi mulai larut dalam linangan air mata.
“Apa yang terjadi di Myanmar tidak perlu terulang di Indonesia, pernyataan anak ini sudah bisa menggambarkan penderitaan mereka. Mereka berdua adalah anak yang beruntung, diselamatkan oleh Allah Subhanahu Wata’ala dan aman di negeri Indonesia yang menjunjung kedamaian. Negeri yang selalu memiliki spirit gotong royong, memiliki semangat Pancasila.
Dan saya tidak bisa membayangkan bagaimana penderitaan anak-anak di sana yang sebaya mereka,” ungkap Sohibul Iman dalam orasinya di depan ribuan massa.* Zulkarnain