Hidayatullah.com– Aktivis pemuda Suhardi Sukiman mengapresiasi Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (TNI AD) yang menginstruksikan seluruh prajuritnya untuk menggelar nonton bareng film Pengkhianatan G30S/PKI besutan Arifin C. Noer itu.
Suhardi pun mendorong anak muda khususnya kader muda ormas Islam untuk menonton film tersebut. Sebab menurutnya tayangan tersebut sarat nilai patriotisme menjaga dan merawat NKRI serta sebagai tambahan wawasan kebangsaan bagi pemuda.
“Film lawas ini sekaligus semacam presentasi dan restorasi sejarah bahwa pengkhianat bangsa akan tumbang apabila kita selalu bersatu padu,” kata Ketua Umum Pengurus Pusat (PP) Syabab Hidayatullah ini.
Baca: Muncul Usulan Pemutaran Kembali Film G30S/PKI, Fadli Zon Setuju
Suhardi enggan menanggapi adanya pandangan film ini kontroversial dan dianggap memuat propaganda yang dinilai menyudutkan kalangan tertentu. Namun, menurutnya, film ini tetap penting dicermati terutama agar generasi muda mengetahui sejarah bangsa tentang bahaya PKI.
Suhardi memandang, kendati film ini memicu perdebatan, namun tetap memuat hal-hal elementer yang selaras dengan fakta-fakta empiris, sebagaimana banyak dikemukakan oleh sejarawan termasuk saksi korban dalam peristiwa bersejarah tersebut.
“Jadi kita melihat sisi positifnya saja. Kritis tentu perlu di tengah pertarungan wacana di ruang demokrasi kita hari ini. Namun yang penting adalah kita perlu terus mewaspadai upaya menggunting dalam lipatan yang bisa merubuhkan bangunan rekonsiliasi bangsa yang coba terus kita rawat,” imbuh Suhardi.
Suhardi menambahkan, peringatan peristiwa Gerakan 30 September atau disingkat G30S/PKI dalam rangka untuk mengenang jenderal dan para korban yang terbunuh. Peringatan 30 September ini kata dia juga sebagai momentum untuk meneguhkan Ketetapan MPRS Nomor 25 Tahun 1966 tentang Pembubaran Partai Komunis Indonesia (PKI).
“TAP MPRS Nomor 25 Tahun 1966 masih berlaku dan perlu dipertahankan dimana di sana tercantum soal pembubaran PKI dan melarang komunisme, larangan terhadap penyebaran ajaran-ajaran Komunisme, Leninisme, dan Marxisme,” pungkasnya.