Hidayatullah.com– Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) bersama perwakilan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) siang tadi, Senin (06/11/2017), mendatangi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) untuk berkoordinasi terkait kasus kekerasan di dunia pendidikan.
KPAI dan KPPPA diterima oleh Dirjen Dikdasmen Kemdikbud Hamid Muhamad, Kepala Biro Komunikasi dan Layanan Masyarakat Ari Santoso, dan sejumlah staf Kemdikbud RI. Pertemuan berlangsung sekitar 45 menit.
Maksud dan tujuan KPAI menemui Kemdikbud RI adalah terkait kasus kekerasan di salah satu SMPN di Pangkal Pinang, Provinsi Bangka Belitung dan juga video yang viral yang diduga terjadi di Pontianak, Kalimantan Barat. Artinya, ada dua kasus berbeda.
“Terkait kasus kekerasan di Pangkal Pinang, KPAI juga sudah berkoordinasi dengan Kementerian PPPA. Menurut hasil penelusuran Dinas PPA Kota Pangkal Pinang, kekerasan tersebut memang terjadi di SMPN tersebut oleh salah satu oknum guru, tetapi sudah berakhir damai. Namun kejadian ini tidak terkait dengan video yang viral tersebut,” ujar Komisioner KPAI Bidang Pendidikan, Retno Listyarti, kepada hidayatullah.com di Jakarta, Senin (06/11/2017) malam melalui pernyataan tertulis.
Baca: Viral Video Murid Dipukuli, Kemdikbud-Kemen PPPA-KPAI Gelar Rapat
Kemdikbud katanya sudah menurunkan tim ke Pangkal Pinang terkait kasus kekerasan yang terjadi di salah satu SMPN di Pangkal Pinang. Hasil investigasi akan dibagikan, baik kepada KPAI maupun Kementerian PPPA.
“Adapun terkait video kekerasan pemukulan siswa di kelas yang viral, ternyata bukan merupakan kejadian di Pangkal Pinang, namun diduga terjadi di tempat lain —diduga di Pontianak. Terkait hal ini, Kementerian PPPA dan Kemdikbud akan melakukan penyelidikan untuk memastikan peristiwa tersebut dan akan bertindak sesuai kewenangan yang diamanatkan oleh perundangan,” terangnya.
Sebelumnya, beredar secara masif dan luas (mem-viral) sebuah video yang memperlihatkan seorang pria diduga oknum guru melakukan tindakan kekerasan bertubi-tubi terhadap seorang pelajar. Kejadian itu disebut-sebut terjadi di sebuah SMPN di Pangkal Pinang. Pihak sebuah SMPN di kota pun telah menyampaikan bantahannya.*