Hidayatullah.com– Dai asal Nuu Waar (Papua), Ustadz Fadlan Rabbany Garamatan (UFG) mengungkapkan ada kesalahpahaman terhadap isi ceramahnya yang dilaporkan oleh sekelompok masyarakat Papua belum lama ini.
Ia menduga, potongan video di sebuah kajian di Jakarta beberapa tahun yang lalu itu sengaja di-viral-kan oleh pihak atau oknum yang tidak bertanggung jawab yang kemudian menimbulkan sedikit gangguan tatanan masyarakat.
Karenanya, putra adat asli Papua kelahiran Kampung Patipi Pulau (Nusa), Distrik Teluk Patipi, di bawah Pertuanan Raja Patipi Kabupaten Fakfak yang merupakan bagian dari keluarga besar masyarakat adat Papua tersebut, menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh masyarakat Papua.
Baca: Fadlan Garamatan: Dari Pegawai Negeri jadi “Pegawai Nabi”
“Saya juga mengajak saudara-saudariku, semua komponen masyarakat adat Papua, mari kita berdiri di tanah ini untuk saling isi-mengisi dan nasihat-menasihati. Sekaligus saling menyempurnakan berbagai kekurangan yang ada demi kemajuan masyarakat Papua secara luas, gua memberi perubahan terhadap masyarakat Papua yang lebib berperadaban,” ujarnya di hadapan media di Jakarta, Senin (02/04/2018).
Sementara itu, dalam kesempatan yang sama, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Papua, KH Saiful Islam Al-Payage, mengungkapkan, potongan video ceramah Ustadz Fadlan tidak berkaitan dengan kondisi Papua saat ini, tetapi diangkat kembali untuk memanfaatkan situasi yang terjadi belakangan.
Ia menyampaikan, memang belum lama ini terjadi sedikit gesekan di masyarakat Papua, khususnya Sentani, Jayapura, akibat surat penolakan beberapa hal terkait ajaran Islam oleh persekutuan gereja di sana.
Baca: Persekutuan Gereja di Papua Persoalkan Menara Masjid, Adzan, dan Busana Keagamaan
Oleh sebab itu, terang Payage, MUI mengapresiasi langkah permohonan maaf yang disampaikan oleh Ustadz Fadlan.
“Saya bersyukur kepada Allah dan berterima kasih karena beliau mau minta maaf, walaupun belum tentu salah. MUI memberikan penghargaan yang sebesar-besarnya. Semoga kita semua bisa menerima permohonan maaf sehingga tidak ada lagi gejolak dan sebagainya,” tandasnya.
Payage berharap, toleransi antar umat beragama di Papua tetap terjaga. Dan kedepannya bisa lebih baik lagi.*
Baca: Fadlan R Garamatan: Irian Adalah Wilayah NKRI, Bukan GIDI