Hidayatullah.com– Gerakan Pemuda (GP) Ansor dituding mengadang dakwah Ustadz Abdul Somad (UAS) di Jawa Tengah baru-baru ini. Ansor mengakui bahwa mereka meminta agar roadshow UAS dimonitor, dengan alasan ada kru UAS yang memakai simbol lafal “La ilaha illallah, Muhammadur Rasulullah” yang diketahui merupakan kalimat tauhid dalam Islam.
Pada 21 Agustus 2018 lalu, Ansor diketahui melayangkan surat pernyataan sikap tentang rencana kedatangan UAS ke Pondok Pesantren Al-Husna Mayong, Jepara, Jawa Tengah.
Menurut surat itu, kedatangan UAS hanya dijadikan domplengan oleh ormas yang telah dibubarkan, yaitu eks Hizbut Tahrir Indonesia (HTI).
Oleh karena itu, GP Ansor meminta Polri secara tegas dan ekstra memonitor roadshow UAS dan mencegah terjadinya konsolidasi eks HTI.
Baca: PKS Minta Pemerintah dan MUI Ungkap Pengintimidasi UAS
Ketua PP GP Ansor Korwil Jateng dan DIY Mujiborrahman mengatakan, sebenarnya GP Ansor melakukan hal itu bukan saat itu atau bukan karena UAS.
“Tapi ini dilakukan sudah dari periode ke periode, kaderisasi itu selalu menyampaikan pesan bahwa kita wajib menjaga Nahdlatul Ulama, menjaga Kiai NU, menjaga NKRI. Itu kaderisasi,” ujarnya dalam dialog bertema “Ustadz Somad Diintimidasi?” di Studio Viva One, Jakarta, pada program acara Kabar Petang yang berdasarkan jadwal resminya dimulai pukul 17.00 WIB, Selasa (04/09/2018).
“Nah, dalam konteks Jepara itu, dikhawatirkan melihat indikasi-indikasi yang muncul dalam setiap roadshow-nya Ustadz Abdul Somad itu ada kelompok Hizbut Tahrir yang masuk ke dalamnya,” sebut Mujiborrahman.
Baca: Anggota Banser yang Sulut Kemarahan Berakhir Minta Maaf
Apa indikasi yang paling kuat atas tudingannya?
Ditanya begitu, Mujiborrahman menjawab, “Eeee… dari sisi atribut yang dipakai oleh krunya. Jadi sebelum datang itu biasanya, kan, ada krunya yang menyiapkan. Itu dari sisi atributnya sudah menggunakan atribut-atribut Hizbut Tahrir.”
“Ada beberapa orang,” sebutnya.
“(Atributnya itu) ada bendera ‘La ilaha illallah, Muhammadur Rasulullah’, misalnya, di topinya, di bajunya. Nah itu yang sebenarnya kita tidak kehendaki. Soalnya gini. Tidak harus UAS, siapapun orangnya. Jadi jangan kemudian UAS itu merasa dipersekusi oleh Ansor, itu jangan, enggak, sama sekali,” ungkapnya.
Baca: OIAA: UAS Terbukti Kukuhkan Nilai-nilai Kebangsaan dan Keislaman
Ia menyebut, siapapun yang melakukan rongrongan terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia, maka Ansor akan melawannya.
“Bukan orangnya, bukan UAS-nya, tetapi siapa yang melakukan perongrongan terhadap NKRI itu, maka itu akan dilawan oleh Ansor, siapapun orangnya, bukan hanya UAS,” sebutnya.
Bagaimana memastikan bahwa atribut yang disebut digunakan kru UAS itu benar-benar HTI karena bisa jadi sama atau mirip?
Mujiborrahman tak menjawab secara detail, tapi mengatakan, “Kalau itu enggak usah diperdebatkan itu,” karena menurutnya, “Sudah fix. Tapi pada intinya begini. Jadi kekhawatiran Gerakan Pemuda Ansor tentu berdasarkan indikasi-indikasi yang sudah fix, sudah jelas.”
Mujiborrahman lantas membantah jika Ansor melakukan pengadangan terhadap UAS dan dakwahnya.
“Tidak mungkin Ansor itu melarang dakwah. Itu ini yang menjadi sorotan. Tidak mungkin Ansor itu melarang dakwah, siapapun orangnya. UAS atau siapapun namanya. Terkait dengan dakwah tidak mungkin.”
“Kalau kaitannya sama dakwah, kaitannya sama organisasi, kaitannya sama personal itu kita tidak melakukan apa-apa. Tidak demo tidak apa. Tapi kalau sudah berkaitan dengan konstitusi kita, negara kita, itu Ansor Banser pasti berada di garda depan,” sebut Mujiborrahman.
Ia juga membantah jika Ansor melakukan pengadangan terhadap UAS di jalan.
Baru-baru ini UAS mengungkapkan kepada publik ia dan timnya mengalami intimidasi, ancaman, dan upaya pembatalan terhadap dakwahnya di berbagai daerah di Jawa Tengah, termasuk Jepara.
Hingga saat ini UAS belum mengungkapkan seperti apa perlakuan yang ia alami dan siapa pelakunya. Sejumlah pihak meminta UAS melaporkan kasus tersebut ke kepolisian.
Sementara sejumlah staf UAS saya dikonfirmasi hidayatullah.com soal tudingan GP Ansor itu belum memberikan responsnya hingga berita ini dinaikkan. Nomor telepon staf tersebut belum bisa dihubungi.*