Hidayatullah.com– Masjid Jami Pantoloan di Kota Palu, Sulawesi Tengah, itu masih tegak berdiri. Sementara sekelilingnya, tersisa puing-puing bangunan berserakan, luluh lantak, rata dengan tanah.
Bangunan masjid tua ini adalah satu dari tiga bangunan yang luput dari amukan gempa dan tsunami pada Jumat (28/09/2018) lalu. Padahal, jarak masjid dengan bibir pantai terbilang sangat dekat.
Ilham, salah seorang jamaah masjid ini menceritakan: “Saat itu adzan sedang dikumandangkan di masjid. Lalu tiba-tiba bumi berguncang. Disusul gelombang air laut setinggi rumah susun menerjang. Meluluh-lantakkan setiap bangunan yang dilewati. Kecuali masjid dan dua rumah di dekatnya.”
“Rumah pertama adalah rumah imam Masjid (Jami). Dan rumah kedua adalah rumah salah seorang jamaah yang dikenal istiqamah shalat berjamaah di masjid,” terang Ilham sebagaimana disampaikan kepada hidayatullah.com oleh Syamsuddin, relawan BMH di Palu, Rabu (17/10/2018).
Ilham menambahkan, “Masjid ini sejak dua bulan terakhir selalu ramai dengan berbagai kegiatan positif. Termasuk shalat lima waktu berjamaah. Bahkan masjid ini pun seringkali ditempati sebagai tempat mabit.”
Alhamdulillah, dalam beberapa bulan terakhir. Jamaah masjid ini terus bertambah. Banyak warga terkhusus remaja yang memilih jalan hijrah. Semakin bersemangat dan betah di masjid, lanjut Ilham.
Yang membuat Ilham dan jamaah lain terharu. Salah seorang korban jiwa dalam peristiwa ini adalah seorang jamaah yang baru beberapa bulan lalu memilih jalan hijrah. Ia menutup usia setelah menghapus jejak kelam kehidupannya dengan berhijrah, beberapa bulan lalu.
“Semoga Allah menjaga dan menerima taubat almarhum,” ungkap Ilham dengan suara terbata-bata.
Masya Allah!
“Allah berkali-kali mengabarkan kuasa-Nya kepada kita. Lewat banyak hal. Hanya saja kita kadang tidak dapat menangkap sinyal ke-Maha Kuasa-an itu,” tutur Syamsuddin.
InsyaAllah, tuturnya, malam ini di Masjid Jami’ Pantoloan, BMH siap menggelar kegiatan “Maghrib Mengaji” bersama masyarakat sekitar. Sekaligus menyampaikan beberapa amanah donatur kepada warga yang terdampak gempa dan tsunami di tempat ini.
“Karena ‘trauma healing’ terbaik bagi mereka dan kita adalah dengan membaca Al-Qur’an dan beristighfar.
Sebagaimana dulu, ketika terjadi gempa di masa (Khalifah) Umar, maka beliau lalu mengirimkan pesan ke semua gubernur dan pejabat di berbagai negeri agar mereka menyeru kepada umat agar bertaubat, mendekat, dan merendah kepada Allah dan beristighfar,” pungkas Syamsuddin.*