Hidayatullah.com– Pengurus Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) Pusat KH Idrus Ramli mengatakan, dalam kaidah fiqh disebutkan bahwa kebijakan seorang pemimpin harus sesuai dengan kepentingan rakyat, bukan kepentingan pemimpin.
Karenanya sudah barang tentu pemimpin yang mesti dipilih adalah pemimpin yang kira-kira lebih memihak pada kepentingan rakyat, bukan kepentingan pribadi atau golongan.
“Kita Muslim cinta Indonesia dan agama, maka bagaimana pemimpin yang dipilih kira-kira tidak merugikan Islam, maslahat bagi umat Islam dan negara yang kita cintai,” ujarnya pada diskusi ‘Arah Politik Ulama’ di AQL Islamic Center, Jakarta, Selasa malam Rabu pekan ini.
Gus Idrus, sapaannya, berpesan, dalam memilih pemimpin juga perlu istikhoroh, kemudian istisyaroh (meminta pendapat). Karena dalam Islam tidak akan rugi orang yang istikhoroh dan tidak akan menyesal orang yang meminta pendapat pada orang lain.
Tetapi, lanjutnya, tentu yang dimintai pendapat ini orang yang memang layak dimintai pendapat dan orang yang takut kepada Allah.
“Kalau sudah jadi, dan hasilnya sesuai dengan keinginan, Alhamdulillah. Kalau tidak sesuai, innalillah, kemudian allahuma. Maksudnya mohon doa kepada Allah mudah-mudahan hatinya dilembutkan, agar memihak kepada Islam,” jelasnya.
“Nah dari dua calon itu kira-kira yang mana, wallahu ‘alam,” tandas Dewan Pakar ASWAJA Center Jawa Timur ini.* Yahya G Nasrullah