Hidayatullah.com– Pakar Fiqih Dr Zain An-Najah menanggapi pembongkaran kuburan di Bone Balango, Gorontalo karena hanya perbedaan pilihan politik.
Ia menjelaskan, pada dasarnya semua manusia dimuliakan oleh Allah Subhanahu Wata’ala, sebagaimana tertera di Surat Al-Isra ayat 70 dan At-Tin ayat 4.
Kemuliaan manusia itu, jelas alumnus Universitas Al-Azhar Kairo, Mesir, ini, sewaktu mereka hidup dan mati.
Karena itu, terangnya, tidak boleh mengubah ciptaan Allah misal dengan memotong anggota badan manusia hidup tanpa ada kepentingan. Begitupun waktu mati, tambah Zain. Mayat tidak boleh disayat-sayat atau dipotong tanpa ada kepentingan.
“Mayat itu dimuliakan Allah. Mayat dimandikan, dishalatkan, lalu dikuburkan,” ujarnya kepada hidayatullah.com usai menghadiri milad LPPOM MUI di Balai Kartini, Jakarta, Rabu (16/01/2019). “Pembongkaran kuburan itu bertentangan dengan ketentuan Allah dalam memuliakan manusia.”
Baca: MUI: Pemindahan Kuburan karena Perbedaan Politik Menyedihkan
Kecuali, kata dia, untuk maslahat yang lebih besar. Seperti kuburan itu terkena banjir, reruntuhan gunung, atau tanah longsor. Maka pembongkaran dibolehkan karena kuburan bisa rusak. Atau untuk kepentingan umum, seperti jalan umum atau jalan tol yang memang tidak bisa dikerjakan tanpa melalui kuburan itu. Atau kuburan itu di dalam lingkungan kuburan non-Muslim. Maka wajib dipindahkan ke kuburan lingkungan Muslim.
“Dalam hal ini kalau cuma masalah politik, sangat-sangat haram hukumnya (dibongkar dan dipindahkan) karena pilihan politik itu tidak ada hubungannya dengan maslahat,” tegasnya.
Seharusnya, kata dia, saling menghormati saja terhadap pilihan politik yang berbeda.
Baca: PBNU: Pemindahan Jenazah karena Perbedaan Politik Mengoyak Kemanusiaan
Sebelumnya diberitakan, pembongkaran dua makam itu terjadi hanya karena perbedaan dukungan politik pada keluarganya dalam Pileg 2019. Akibatnya, dua kuburan di Desa Toto Selatan, Kabupaten Bone Bolango, Gorontalo, pada Sabtu pagi, 12 Januari 2019, dipindahkan lokasinya.
Menurut perwakilan keluarga yang kuburannya dibongkar, Abdul Salam Pomontolo, pemilik tanah Awano sudah memperingatkan soal pembongkaran makam. Pembongkaran akan dilakukan bila tak mau mendukung ipar pemilik tanah menjadi caleg DPRD.* Andi
Baca: Muhammadiyah Sayangkan Pembongkaran Makam karena Perbedaan Politik