Hidayatullah.com– Pengamat politik Rocky Gerung mengajak seribuan hadirin yang memenuhi Hall Lantai 13 At Tauhid Tower, Universitas Muhammadiyah Surabaya, Jawa Timur, untuk mengaktifkan akal sehatnya dalam menghadapi negara yang dinilai suka berbohong.
Hal itu disampaikan Rocky saat menjadi dosen dalam Kuliah Umum “Membangun Nalar Kritis di Kalangan Kampus untuk Indonesia Berkemajuan”, Selasa (29/01/2019).
Rocky mengomentari persoalan ekonomi terkait turunnya beberapa harga kebutuhan. Secara statistik, sekarang harga-harga memang sedang turun. Tapi, ia menerangkan, dalam ekonomi ada dua penjelasan terkait turunnya harga, yaitu harga turun bisa terjadi karena tidak ada yang membeli, dan tidak mampu membeli.
“Harga turun bisa terjadi karena saya tidak membeli. Karena saya tidak mampu membeli. Jadi turunnya harga bukan berarti ada intervensi pemerintah, tapi daya beli emak-emak tidak tumbuh,” ujarnya.
Baca: Rocky Gerung Sebut Pembuat Berita Hoax Terbaik adalah Penguasa
Rocky juga mengkritisi pemberitaan di media massa tentang listrik di Pulau Jawa yang surplus. Ia mempertanyakan kenapa listriknya surplus.
“Kenapa surplus, karena pengguna-pengguna utama listrik, industri-industri besar tutup. Karena terjadi deindustrialisasi. Tidak ada aktivitas ekonomi jelas listrik berlimpah,” kritiknya.
Rocky mengajak untuk mengaktifkan akal sehat dalam melawan yang ia sebut kebohongan statistik. “Itu cara-cara berbohong dalam statistik yang adalah hasil dari akal yang tidak normal. Karena itu kita aktifkan akal sehat untuk menantang cara berpikir negara yang banyak ngibulnya,” tegasnya.
Sedangkan dalam soal tidak adanya kesenjangan sosial, Rocky mengatakan kita disajikan dengan data statistik indeks gini rasio yang statistiknya membaik, tidak ada ketimpangan sosial. Tapi Rocky menyebut gini rasio adalah alat untuk mengukur kesenjangan pengeluaran. Bukan pendapatan. Bukan pula kekayaan.
“Mahasiswa yang belajar ekonomi semester 2 tahu apa itu index gini. Gini rasio itu alat untuk mengukur kesenjangan pengeluaran bukan pendapatan,” ujarnya.
Rocky mengibaratkan, misal, karena konsumsi Rocky yang suka naik gunung maka ia hanya makan 2 telor dan jeruk atau pisang tiap harinya, yang dihitung Rp 10 ribu. Demikian dengan mahasiswa hemat yang paginya hanya makan kuah soto dan nasi kemudian malamnya ditambal Promag, jumlah hitungannya juga Rp 10 ribu.
Jumlah pengeluaran mereka sama dengan seorang konglomerat yang menguasai 500 ribu hektare sawit. Karena punya banyak riwayat penyakit, ia diminta dokter hanya mengonsumsi madu yang nilainya per hari Rp 10 ribu.
“Jadi kalau pengeluaran Rocky Gerung, mahasiswa, dan konglomerat sama Rp 10 ribu misalnya, dan petugas statistik datang kemudian mencatatnya. Hasilnya, tidak ada kesenjangan antara Rocky Gerung karena indeks gini rasionya nol. Artinya di dalam statistik itu ada kecurangan,” jelasnya.
Rocky juga menyinggung soal bagi-bagi sertifikat tanah. “Bagi-bagi sertifikat tanah itu penipuan akal sehat. Itu adalah hak masyarakat,” urainya.
Karena itu, Rocky mengajak untuk menggeleng kepada kekuasaan. “Karena fungsi warganegara adalah mempertanyakan kebijakan yang dijanjikan dari pemilu ke pemilu,” pesannya.* Rofi Munawwar