Hidayatullah.com– Sebanyak lebih dari 500 orang petugas meninggal akibat kelelahan setelah Pemilihan Umum (Pemilu) 2019 serentak digelar pada Rabu, 17 April lalu.
Petugas yang meninggal terdiri dari 412 anggota Kelompok Penyelenggara Pemilu Serentak (KPPS), 92 orang Panitia Pengawas Pemilu (Panwaslu), dan 22 anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri).
Jumlah petugas yang meninggal terus bertambah hingga data terakhir dihimpun pada Jumat (03/05/2019).
Selain itu, sebanyak 3.658 orang masih dalam kondisi sakit.
Komisioner Komisi Pemilihan Umum (KPU) RI Evi Novida Ginting mengatakan, evaluasi terkait banyaknya petugas yang meninggal akan dilakukan setelah proses rekapitulasi suara secara nasional rampung.
“Tentu saja evaluasi ini penting, setiap penyelenggaraan pemilu kita selalu melakukan evaluasi dan evaluasi itu kita sampaikan pada berbagai pihak,” ujar Evi, di Jakarta, pada Jumat.
Pelaksanaan pemilu yang menggabungkan pemilihan presiden dan legislatif membuat beban kerja para pelaksana di lapangan lebih berat dibanding sebelumnya.
Salah satu anggota KPPS yang meninggal ialah Abdul Rohim, 40, yang bertugas di TPS 42 Kelurahan Jatibening Baru, Jawa Barat.
Istri dari Rohim, Masnun mengatakan suaminya mengeluh kelelahan, sesak napas, dan setelah bekerja hampir 24 jam pada hari pemungutan suara.
Selain melaksanakan pemungutan suara, KPPS juga menghitung perolehan suara dari lebih dari 1.000 surat suara karena setiap pemilih mencoblos hingga lima surat suara.
“Malam sebelumnya juga dia beres-beres di TPS sampai tengah malam, paginya sudah berangkat lagi jam 6 pagi,” tutur Masnun, di Jakarta, Selasa lansir Anadolu Agency, Jumat.
Rohim sempat menjalani rawat inap di rumah sakit karena didiagnosa mengalami lemah jantung dan meninggal dunia pada Rabu pekan lalu.
“Waktu diperiksa dokter dibilang jantungnya lemah dan dirawat di ruang ICU,” kenang Masnun.
Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Ari Fahrial Syam mengatakan 70 persen dari anggota KPPS yang meninggal berusia di atas 40 tahun.
Dia menduga salah satu faktor yang menyebabkan banyaknya petugas meninggal karena waktu kerja yang melewati jam biologis manusia.
Mereka bekerja sebanyak 20 hingga 24 jam dan tidak tidur untuk menyelesaikan penghitungan suara.
Selain itu, dia menduga ada petugas KPPS yang memiliki riwayat penyakit dan kambuh setelah kelelahan bertugas.
Tekanan tinggi dalam pelaksanaan pemilu juga diduga memicu stres para petugas sehingga berpengaruh pada kondisi mereka.
Perlu dibentuk tim khusus
Ketua Dewan Pembina Partai Golkar Abu Rizal Bakrie mengusulkan pemerintah membentuk tim khusus yang terdiri dari para dokter, Kementerian Kesehatan, dan aparat penegak hukum.
“Ini jumlah korban jiwa yang sangat banyak. Ini tidak bisa didiamkan dan merupakan tragedi nasional,” ujar Aburizal Bakrie, melalui akun Twitter, pada Jumat.*