Hidayatullah.com–Ekonomi (perbankan) syariah terus bertumbuh, tapi persentasenya masih kecil dibandingkan dengan bank konvensional. Hal itu karena sosialisasi oleh para banker sendiri tidak begitu mengena karena stereotype ‘profit oriented’ yang melekat, sedangkan jika sosialisasi dilakukan oleh para ulama atau da’i bisa lebih mengena karena dinilai lebih ‘netral.’
Hal itu diungkapkan pengurus DPP Asbisindo, Djoko Nugroho dalam “Seminar Potensi Da’i dalam Menggerakkan Industri Perbankan Syariah” yang diselenggarakan oleh Komunitas Pecinta Da’wah (KPD) di Gedung Juang, Menteng Raya Jakarta Pusat, Senin (24/06/2013).
Akan tetapi, lanjut Djoko Nugroho yang juga menjabat Direksi Bank Victoria Syariah tersebut, di kalangan da’i sosialisasi ekonomi syariah belum gencar. Hal itu, menurut penelitian yang pernah dilakukannya, hanya 5 persen materi keekonomian yang disampaikan para da’i dalam berbagai ceramah atau ta’lim di berbagai media.
“Selama ini bank-bank syariah lebih banyak kerjasama dengan dunia kampus, yang telah mempunyai bekal pengetahuan ekonomi syariah. Padahal bisa saja para da’i juga berperan mensosialisasikan ekonomi syariah,” lanjutnya.
Djoko juga mengakui tidak sedikit kalangan non-muslim yang antusias beralih ke ekonomi syariah, bahkan banyak banker non-muslim yang menduduki posisi penting di bank syariah. Ini realita yang terjadi, bahwa pengguna dan akademis perbankan syariah diluar negeri penganutnya adalah orang non muslim bahkan Yahudi. Mereka lebih paham tentang apa itu ekonomi Islam.
“Dalam bank syariah titik tekannya adalah fiqih perbankan-nya, sedangkan masalah aqidah tidak dipersyaratkan. Dalam penyaringan di BI sendiri juga banyak yang lulus kompetensi, sehingga mereka lolos untuk mendukuki jabatan-jabatan tersebut,” ujar Djoko.
Ketua Dapur Dai Nusantara (Da’ina), Masrur Anhar yang juga menjadi pembicara pada seminar tersebut menyampaikan, potensi ekonomi umat Islam di Indonesia luar biasa besar, tetapi belum dimaksimalkan. Hal itu karena pemahaman akan ekonomi syariah masyarakat masih minim, yang masih menilai bank syariah hanya berbeda pada nama dengan bank konvensional, sedangkan pada praktiknya tetap mencari keuntungan.
Masrur mengibaratkan makan ayam yang disembelihh dengan membaca bismillah dan yang tidak. “Akan lebih baik jika – atau da’i yang menyampaikan urgensi ekonomi atau bank syariah, dibekali pengetahuan akan hal itu, minimal dari segi fiqihnya,” kata Masrur.
Menurut KH Kholil Ridwan dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) diterimanya perbankan Islam oleh kalangan non-Muslim sebenarnya menjadi entry-point untuk mengenalkan Islam secara utuh.
“Ekonomi (perbankan) Syariah merupakan entry point untuk da’wah Islam di kalangan lain, sebagaimana sekarang di Eropa ekonomi Islam diminati (Islamic Banking),” kata pak kiai tersebut.
Ia menegaskan, ekonomi tidak boleh diabaikan dan hanya fokus pada politik, sebab ekonomi dan politik ibarat dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan, akan tetapi meyatu dan saling menguatkan. Karenanya dengan menggandeng sejumlah kalangan, pihaknya telah menggagas integrasi da’wah dengan ekonomi, salah satunya berda’wah di kalangan kaum marjinal sekaligus memberdayakan ekonomi mereka agar bisa mandiri.*