Hidayatullah.com– Pengamat Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Dr Riefqi Muna mengatakan, penanganan tindak terorisme mestinya tidak selalu menggunakan pendekatan kekerasan atau senjata.
“Perlu dipikirkan cara-cara bukan hanya kekerasan tapi juga yang soft (lembut),” ujarnya dalam seminar bertema ‘Ancaman dan Strategi Penanggulangan Terorisme’ di Auditorium Juwono Sudarsono Universitas Indonesia, Depok, Jawa Barat, Selasa (07/03/2017).
Menurutnya, mesti ada pembagian level bagaimana suatu tindakan terorisme direspon. Yakni sesuai konteks dan dinamikanya.
Konferensi Universitas Al-Azhar Desak Dunia Tak Kaitkan Islam dengan Terorisme
Ia mengungkapkan, komponen penggunaan kekerasan atau senjata terhadap teroris disiapkan jika ada resiko. Misalnya kalau pelaku menggunakan senjata dan membahayakan. Kalau tidak melawan maka dianggap tidak perlu.
“Penanganannya harus sangat hati-hati, tidak bisa senjata itu digunakan dengan seenaknya,” ungkapnya.
Memang, menurut Muna, terorisme merupakan suatu kejahatan luar biasa (extraordinary crime) dan berpotensi membahayakan.
Namun, jelasnya, tetap tidak boleh kekerasan digunakan dengan tidak semestinya sehingga seringkali berakhir dengan hilangnya nyawa pelaku.
Seminar tersebut diselenggarakan oleh Program Studi Kajian Timur Tengah dan Islam UI dan Institute for Peace and Security Studies (IPSS).
Turut hadir Dr M Luthfi Zuhdi (Direktur PSKTTI UI), Prof Azyumardi Azra (Guru Besar UIN Jakarta), Irjen Benny Mamoto (Wakil Direktur Sekolah Kajian Stratejik dan Global UI), dan Dr Sri Yunanto (Penulis Buku Ancaman dan Strategi Penanggulangan Terorisme).*