Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Nasional

IDEAS: Kekuatan Kapital Mendominasi Sistem Politik Indonesia

Muhammad Abdus Syakur
Terakhir diupdate: 14 Januari 2020 22:01 10:01 pm
Muhammad Abdus Syakur
Dipublikasikan 14 Januari 2020 22:01
Bagikan
Direktur Institute For Demographic and Poverty Studies (IDEAS), Yusuf Wibisono pada diskusi bertajuk 'Ilusi Mobilitas Ekonomi dan Kapital Tak Terbatas', di Jakarta, Selasa (14/01/2020).
Bagikan

Hidayatullah.com– Direktur Institute For Demographic and Poverty Studies (IDEAS), Yusuf Wibisono mengatakan, kekuatan kapital telah mendominasi sistem politik Indonesia pasca krisis.

Ia menjelaskan, oligarki ekonomi mampu mengubah peta dukungan suara, membalikkan momentum politik hingga membeli hasil politik yang diinginkan dengan mengeksploitasi sumber daya ekonomi yang dimilikinya.

“Pasca reformasi, Indonesia menjadi ruang nyaman bagi oligarki ekonomi. Motivasi keamanan dan mempertahankan kekayaan menjadi faktor terpenting. Semakin tinggi jabatan politik yang diperebutkan, semakin besar peluang oligarki ekonomi terlibat dalam pertarungan memperebutkan kekuasaan tersebut,” ujar Yusuf Wibisono, pada diskusi pemaparan hasil riset #IDEASTalk yang bertajuk ‘Ilusi Mobilitas Ekonomi dan Kapital Tak Terbatas’, di Jakarta, Selasa (14/01/2020).

Yusuf Wibisono mengungkapkan, munculnya oligarki ekonomi bermula dari bangkitnya Orde Baru. Indonesia tidak menghadapi konsentrasi kapital dan tidak memiliki oligarki ekonomi hingga era 1970-an.

Ia menambahkan, walaupun selalu didominasi elite, namun Indonesia tidak pernah didominasi oleh oligarki kecuali setelah mereka diinkubasi dan matang di era Orde Baru. Pada awalnya, segelintir elite ekonomi mendapatkan konsesi dan fasilitas eksklusif dari penguasa Orde Baru untuk memberikan dukungan finansial ke militer. Dengan cara ini Presiden yang baru naik ke tampuk kekuasaan mengendalikan militer sekaligus mengalahkan rival politiknya. Semua pengusaha besar saat itu tumbuh dari payung kekuasaan seperti ini.

Baca Juga

Lukmanul Hakim MUI wafat
KH Dr. Lukmanul Hakim, Pejuang Ekonomi Umat yang Berpulang
Layanan SIHALAL Bermasalah, ALPHI Minta Dikembalikan Ke Sistem Lama
LPPOM Bersama ALPHI Kupas Tuntas Tarif dan Waktu Proses Sertifikasi Halal
PAD Kota Depok Meningkat Tanpa Iklan Rokok
Pembukaan Silatnas 2023, Pj Gubernur Kaltim Puji Kiprah Dai – Daiyah Hidayatullah

“Salim Group misalnya, bermula dari pendirian PT Bogasari pada 1969 yang mendapatkan hak eksklusif penggilingan tepung terigu untuk Indonesia bagian barat, yang merepresentasikan 80 persen pasar terigu domestik. Hanya dengan modal Rp 100 juta, lima hari setelah berdiri PT Bogasari mendapat lisensi atas pasar wilayah Indonesia Barat sekaligus kucuran kredit Rp 2,8 miliar. Dari 3 perusahaan pada 1957, Salim Group tumbuh menjadi 54 perusahaan pada 1980-an dan menembus 427 perusahaan pada awal 1990-an,” ungkap pimpinan lembaga Think Tank yang fokus pada isue kesenjangan ekonomi tersebut sebagaimana dirilis.

Disebutkan, kekuatan kapital yang membesar cepat ini menjadi kekuatan politik yang signifikan. Kejatuhan rezim Orde Baru banyak disumbang oleh berpalingnya konglomerat dengan tidak memberikan dukungan kepada penguasa dalam menghadapi krisis 1998. Transformasi politik yang signifikan dan radikal pasca krisis, tidak menurunkan pengaruh politik pemilik kapital ini, bahkan semakin memperbesarnya.

“Sistem demokrasi langsung mudah diakuisisi dan didominasi oleh oligarki ekonomi. Demokrasi menjadi arena pertarungan yang nyaman bagi oligarki untuk merebut kekuasaan dalam rangka memupuk kekayaan lebih lanjut. Transisi ke demokrasi sama sekali tidak memunculkan tantangan dari publik terhadap oligarki ekonomi atas penguasaannya yang sangat dominan atas perekonomian,” tuturnya dengan penuh penegasan.

Pada tingkat pendapatan yang sangat tinggi, akumulasi kekayaan oleh kelompok terkaya akan membuat transmisi kekayaan lintas generasi akan terjadi lebih kuat. Dinamika kelompok terkaya ini terefleksi secara jelas dalam fenomena dinasti pada konglomerasi bisnis dan juga pada oligopoli politik. Seluruh orang terkaya Indonesia hari ini, paparnya, memiliki hubungan yang kuat, terutama hubungan kekeluargaan, dengan orang terkaya sebelumnya.

“Kita bisa melihat beberapa fakta dimana orang-orang terkaya Indonesia hari ini adalah orang atau bagian dari keluarga terkaya masa sebelumnya. Sebagai contoh Anthoni Salim (terkaya ke-26 tahun 2019) adalah anak dari Sudono Salim (terkaya ke-1 Tahun 1987), Martin B. Hartono, anak Budi Hartono (terkaya Indonesia tahun 2019), menikah dengan Grace L. Katuari, anak pemilik Wings Group, Eddy William Katuari (terkaya ke-26 tahun 2019), Lalu Susilo Wonowidjojo (terkaya ke-4 tahun 2019) adalah anak dari Rachman Halim (terkayake-1 tahun 1996),” ungkapnya.*

Redaktur: Muhammad Abdus Syakur
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:demokrasiekonomikapitalkapitalismeoligarki ekonomipolitikYusuf Wibisono
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Diancam Akan Diperas, YouTuber Dandan Cantik Akhirnya Mengaku Transgender
Tulisan selanjutnya Proses Pengajuan Izin Baru PPIU Akan Pakai Sistem Online

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina

Berita
3 Juni 2026 12:30
Setia dari Dulu, Kini dan Akan Datang: Kisah Pak Haji Toeng & Bu Hajjah Intang Kloter 15 KBIHU Hidayatullah Balikpapan di Haji 2026
‘Israel’ Perketat Aturan Masjid, Pasang Pengeras Suara Harus Izin Zionis
Kapal Kargo Turki Diserang Drone di Laut Hitam
Israel, Russia Dimasukkan Daftar Hitam Kekerasan Seksual PBB

Terbaru

  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
  • Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm
  • Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah
  • ‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza
  • Iran Tegaskan Siap Tempur Lebih Kuat Jika Perang dengan AS Kembali Pecah
  • Perkuat Kompetensi Amil Zakat dan Nazir Wakaf, Kemenag Gelar Sertifikasi Profesi

Mungkin Anda Juga Suka

BeritaBerita dari AndaNasional

Workshop Tenun dan Tudung Manto untuk Santri dan Masyarakat Lingga

6 November 2023 08:51
BeritaLensaNasional

Investasi LM Antam untuk Pendidikan Anak

13 September 2023 11:00
BeritaLensaNasional

[Foto] Belajar Gosok Gigi yang Benar

29 Juli 2023 07:00
BeritaNasional

Dukung Kegiatan PFI, Eri Cahyadi Tawarkan untuk Pameran Foto Berikutnya

14 Mei 2023 07:35
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?