Hidayatullah.com– Orang miskin saat ini semakin sulit untuk mengalami mobilitas vertikal dari kelas bawah menuju kelas menengah pada status pekerjaan dan pendapatan dalam siklus hidupnya.
Pada saat berbarengan, anak-anak dari keluarga miskin semakin sulit untuk menyamai, terlebih melebihi, status ekonomi dan sosial orangtuanya.
Demikian pemaparan hasil riset Institute For Demographic and Poverty Studies (IDEAS) yang disampaikan di Jakarta, Selasa (14/01/2020).
“Orang miskin hari ini menghadapi lingkungan yang semakin keras. Orang miskin hari ini juga adalah orang miskin kemarin, dengan menanggung berbagai keterbelakangan yang kronis. Mereka menghadapi kekurangan sumber daya dan kesulitan yang terus berlipat dari hari ke hari, menghadapi kesulitan yang persisten, sejak usia dini hingga tua, menanggung keterbelakangan ekonomi dan sosial, yang terwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya,” kata Peneliti IDEAS Siti Nur Rosifah dalam rilis diterima hidayatullah.com semalam.
Baca: IDEAS: Kekuatan Kapital Mendominasi Sistem Politik Indonesia
Disebutkan, transisi dari miskin ke kelas menengah merupakan proses yang sulit dan berliku. IDEAS mencoba melakukan simulasi kenaikan garis kemiskinan dua kali lipat guna memastikan bahwa kelompok miskin benar-benar telah sejahtera, terlihat jelas bahwa jauh dari mudah bagi kelompok miskin untuk naik ke kelas sosial yang lebih tinggi.
Dengan standar kemiskinan yang lebih tinggi, dari 2.120 anak yang besar di keluarga miskin pada 1993, hanya 57,8 persen di antaranya yang mampu naik ke kelas yang lebih tinggi pada 2014. Sementara 42,2 persen di antaranya tetap miskin.
Dan dengan standar kemiskinan yang lebih tinggi, dari 1.612 anak yang besar di keluarga tidak miskin pada 1993, hanya 80,7% di antaranya yang mampu bertahan sebagai kelas menengah di 2014.
Baca: DPR Minta Pemerintah Serius Sejahterakan Rakyat secara Merata
MenurutNur Rosifah, berdasarkan data yang dihimpun oleh IDEAS dari IFLS (Indonesia Family Life Survey) pada rentang 21 tahun (1993-2014), ditemukan bukti empiris bahwa kelompok kaya jauh lebih mampu mempertahankan kesejahteraannya dibandingkan kemampuan mobilitas vertikal si miskin.
“Dari 3.319 anak yang besar di keluarga tidak miskin pada 1993, 96,6 persen di antaranya mampu menjaga tingkat kesejahteraannya dan tidak miskin pada 2014. Hanya 3,4 persen di antaranya yang jatuh menjadi miskin. Si kaya memiliki peluang jauh lebih besar untuk mempertahankan dan meningkatkan kesejahteraan ekonominya dibandingkan si miskin,” ujarnya.
Menurutnya, pandangan umum menyatakan bahwa keberhasilan ekonomi seseorang ditentukan oleh kecerdasan, keahlian, kerja keras dan keberanian mengambil resiko usaha.
“Namun pada kenyataannya, kekayaan yang diwariskan keluarga, orangtua, dan lingkungan keluarga, serta koneksi dan jaringan sosial, memiliki pengaruh yang lebih kuat,” sebutnya menekankan.*