Hidayatullah.com–Wacana pelajaran Fiqih adalah hasil produk Perang Salib ditolak tegas oleh Ketua Umum DPP Front Santri Indonesia Muhammad Hanif Alathas. Wacana ini menghasilkan usulan untuk mengkaji ulang pelajaran fiqih yang ada karena sudah tidak relevan lagi.
https://hidayatullah.com/berita/nasional/read/2020/06/11/185949/ketua-front-santri-indonesia-waspada-kurikulum-pesantren-mau-diobok-obok.html
Hanif Alathas mengingatkan Kyai dan Pesantren untuk waspada peluang kurikulum Pesantren diobok-obok dalam rangka deradikalisasi. Ia juga menegaskan bahwa hukum fiqih lahir jauh sebelum Perang Salib.
Sebelumnya Imam Masjid Istiqlal Nasaruddin Umar di kantor BNPT, Rabu (10/6/2020) mengusulkan untuk mengkaji ulang pelajaran fikih di pondok pesantren jika hendak menangkal paham radikal. Alasannya, pelajaran Fiqih sekarang adalah hasil produk era Perang Salib.
“Mari kita berfikir cerdas, Kapan Perang Salib terjadi. Perang Salib itu terjadi pada tahun 490 H sampai 670 H,” ujar Hanif Alathas dalam siaran pesan singkatnya yang diterima hidayatullah.com, Kamis (11/6/2020).
Ia menjelaskan bahwa mayoritas Umat Islam di dunia ini semenjak seabad yang lalu telah mengikuti 4 Imam Madzhab Fiqih.
Para Imam Madzhab ini adalah Imam Abu Hanifah wafat pada tahun 150 H, Imam Malik wafat pada tahun 179 H, Imam Syafi’i wafat pada tahun 204 H dan Imam Ahmad bin Hanbal wafat pada tahun 241 H.
“Empat Imam Madzhab semuanya wafat jauh sebelum Perang Salib, lantas logika mana yang membenarkan Fikih ini adalah Produk perang Salib?” Ujar alumni Universitas Al-Ahgaff Yaman ini.
Menantu Habib Rizieq Shihab ini juga menjelaskan bahwa rujukan umat Islam tentang Fiqih Politik, yakni Imam al-Mawardi yang wafat tahun 450 H, penulis kitab al-Ahkam as-Sulthoniiyah dan Imam al-Haromain yang wafat tahun 478 H penulis kitab al-Ghiyatsi hadir sebelum perang Salilb.
Kedua Imam ini menjadi rujukan Fiqih Tata Negara, termasuk membahas tugas dan mekanisme Negara Islam dalam mengatur militer, “beliau berdua Wafat juga sebelum Perang Salib” Tegas Hanif Alathas.
“Karenanya, saya minta profesor yang mengatakan bahwa Kitab-kitab Fiqih Saat ini adalah produk Perang Salib agar mondok lagi di pesantren supaya cerdas dan tidak gagal faham.” Pungkasnya.*