Hidayatullah.com– Salah seorang dari ratusan eks penganut Syiah di Madura, Jawa Timur ini mengaku sudah bertahun-tahun menunggu momen ikrar kembali ke ajarah Ahlussunnah Wal Jama’ah (Aswaja).
Kamis kemarin (05/11/ 2020), penganut Syiah Sampang, Tajul Muluk beserta ratusan pengikutnya berikrar kembali ke ajaran Ahlus Sunnah (Sunni). Ikrar dilaksanakan di Pendapa Trunojoyo, disaksikan tidak kurang seratus kiai dan ulama se-Madura.
Rusiyah, salah seorang pengikut Syiah tersebut, mengaku sedih bercampur senang setelah membacakan ikrar itu. Rusiyah mengaku sudah bertahun-tahun menunggu momen sakral ini. “Kami sudah delapan tahun di tempat pengungsian, rindu sama kampung halaman,” kata Warga Desa Karang Gayam, Kecamatan Omben ini dikutip TribunMadura.com.
Baca: Tajul Muluk dan Pengikutnya Ikrar Kembali ke Ahlus Sunnah Dihadiri Puluhan Kiai Madura
Pembacaaan ikrar tersebut disambut baik oleh segenap kalangan termasuk Badan Silaturrahmi Ulama Madura (BASSRA).
“Keinginan tulus Saudara Tajul Muluk utuk kembali ke ajaran Ahlussunnah Wal Jama’ah harus dipandang sebagai keinginan seorang individu yang dijamin oleh agama maupun aturan perundang-undangan yang berlaku dan menjadi hak asasi seorang Tajul Muluk beserta pengikutnya untuk menilai, merenungi, dan melaksanakan paham yang terbaik dan dianggap paling benar menurut hati nuraninya,” pernyataan tertulis BASSRA diterima hidayatullah.com.
Sementara Rusiyah, pada sisi lain, setelah pembacaan ikrar itu mengaku tak tahu apakah langsung pergi tempat tinggalnya di Desa Blu’uran, Kecamatan omben atau tidak. Ia mengaku, kalau pulang ke tempat tinggalnya dirasa tak mungkin, sebab rumahnya sudah ludes terbakar pada insiden tahun 2012 lalu.
Oleh karena itu, mau tak mau ia berharap pemerintah daerah agar memperhatikan nasib yang dialami dirinya dan teman-teman yang lain, sebab sudah tak ada tempat tinggal untuk ditempati. “Selesai ikrar ini kami tidak tahu, rumah sudah tidak ada, kami berharap kepada pemerintah,” sebutnya.
Baca: Ulama Madura Sambut Tajul Muluk dan Pengikutnya Kembali: Selamat Datang dalam Keluarga Ahlussunnah
Ia menuturkan, selama 8 tahun suka duka dilewatinya di tempat pengungsian. Ia rela bekerja sebagai pengupas kelapa untuk menafkahi enam keluarganya.
Ia mengatakan, sistem kerjanya pun tergantung terhadap pabrik si pemilik kelapa, dalam sepekan bisa bekerja selama 6 hari, bisa pula 4 hari. Tapi, kalau kondisinya sepi bisa sepekan tidak bekerja sama sekali. “Untuk bayarannya tidak nentu, tapi sering mendapatkan Rp 400 ribu dan hasilnya cukup memenuhi ekonomi keluarga di sana,” akunya.
Diketahui, Tajul Muluk atau dikenal dengan nama Ali Murtadho juga mengajak ratusan pengikutnya kembali ke ajaran Ahlussunnah. Sebelum ini sebanyak 287 orang pengikut Tajul Muluk mengungsi di Rumah Susun (Rusun) Puspa Agro, Sidoarjo pasca konflik sosial di Sampang beberapa tahun lalu.*