Hidayatullah.com—Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) bidang Dakwah dan Ukhuwah, KH Cholil Nafis menanggapi ulah terbaru pendeta Saifudin yang hina MUI dari persembunyiannya. Ia menyampaikan agar umat tidak terpancing dengan pernyataan pendeta Saifudin.
Melalui akun Twitter-nya, sebagaimana dilihat oleh Hidayatullah.com, Selasa (29/3/2022), Cholil Nafis menyebut pendeta Saifudin sedang berusaha mencari suaka di persembunyiannya yang diduga berada di Amerika Serikat. Ia pun mengatakan kalua pendeta yang dulu murtad dari Islam itu pulang, maka ia perlu diperiksa kejiwaan dan hukumannya.
“Sedang mencari suaka. Jangan terpancing. Tapi kalau sudah pulang, perlu pemeriksaan medis dan hukumannya,” ungkapnya, Senin (28/3/2022).
Sebelumnya, melalui akun Youtube-nya Saifudin Ibrahim, pendeta dengan nama lain Abraham Ben Moses hina MUI dengan menyebut lembaga itu sebagai kumpulan manusia konslet.
“(MUI) Itu kumpulan. Kumpulan manusia-manusia konslet,” ungkap Saifudin melalui video yang diunggah pada Sabtu (26/3/2022).
Saifudin pun mengatakan bahwa MUI adalah kumpulan orang konslet karena dipengaruhi oleh 300 ayat dalam Al-Qur’an yang ia minta untuk dihapus sebelumnya.
“(Manusia konslet) yang dipengaruhi oleh 300 ayat itu. Sehingga dia menjadi manusia yang berdosa, manusia yang terkutuk hidupnya. Itu adalah kumpulan MUI,” ujarnya menghina.
Pendeta Saifudin Ibrahim alias Abraham Ben Moses sebelumnya membuat keributan usai meminta Kementrian Agama (Kemenag) menghapus 300 ayat Al-Qur’an. Setelah itu, ia juga menantang Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan Mahfud MD untuk carok atau berkelahi dengan celurit. Hal itu buntut pernyataan Mahfud MD yang minta kepolisian usut Pendeta Saifudin karena penistaan agama.
Dalam video berjudul “Pendeta Ini Usulkan Menteri Agama Hapus 300 Ayat Al-Qur’an: Teroris itu Datang dari Pesantren”, Abraham Ben Moses meminta Kementrian Agama (Kemenag) agar merevisi kurikulum madrasah dan pesantren karena melahirkan orang radikal. Menurutnya, semua teroris datang dari lembaga pendidikan pesantren.
“Saya gurunya dan saya mengerti. Bahkan, kalau perlu pak, 300 ayat (al-Quran) yang menjadi pemicu hidup intoleran, pemicu hidup radikal dan membenci orang lain karena beda agama itu diskip atau direvisi atau dihapuskan dalam Al-Quran Indonesia. Ini sangat berbahaya sekali,” katanya.