Hidayatullah.com– Sekitar 300-an ulama dan dai se-Asia Tenggara menyerukan dihentikannya aks-aksi Islamofobia termasuk penghinaan terhadap Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam.
Seruan itu mencuat dalam seminar internasional yang digagas oleh Ikatan Ulama dan Dai se-Asia Tenggara (Rabithah Ulama wa Duat Januub Syarq Asia) dengan topik “Mengagungkan Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam.”
Seminar ini digelar merespons kasus penghinaan terhadap Rasulullah yang dilakukan oleh politisi India baru-baru ini yang mengecam reaksi global.
“(Kasus penghinaan Nabi) ini adalah kesedihan yang mendalam dan melukai hati kaum Muslimin di seluruh dunia. Penghinaan dan pelecehan terang-terangan. Padahal manusia yang dilecehkan itu sangat menjunjung tinggi Hak Asasi Manusia,” ujar Ketua Ikatan Ulama dan Dai se-Asia Tenggara, Dr Muhammad Zaitun Rasmin, sebagaimana keterangan pers diterima hidayatullah.com pada Senin (13/06/2022).
Penistaan terhadap Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam, tambahnya, adalah perbuatan dan arogansi yang melampaui batas. Beliau adalah panutan seluruh Muslim yang jumlahnya di atas dua miliar.
“Pembelaan terhadap Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam merupakan kewajiban umat Islam. Meskipun dalam lingkup yang terbatas. Sangat memperhatikan jika umat dan ulama-ulamanya diam terhadap penistaan,” lanjutnya.
Selain Ustadz Zaitun, para anggota dari berbagai negara juga turut menyampaikan pemaparan.
Dari Timor Leste, Ustadz Julio Muslim menegaskan, pembelaan kepada Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam telah dicontohkan oleh para Sahabat beliau. “Bahkan para Sahabat tidak ridha Nabi yang mereka cintai tersakiti sedikit pun sedangkan mereka dalam kondisi sehat dan aman.”
“Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam telah mengorbankan segala yang beliau miliki untuk kebaikan umat Islam. Maka sudah sepantasnya kebaikan beliau dibalas dengan kebaikan dan kesyukuran umatnya,” lanjutnya.
Dr. Fahmi Islam, salah satu perwakilan dari Indonesia turut memberi pernyataan. Ia menilai, penghinaan dan pelecehan terhadap Islam dan Nabi Muhammad adalah fenomena yang terus berulang. Padahal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) telah mengeluarkan Resolusi anti Islamophobia.
“Hal tersebut menegaskan bahwa pembelaan terhadap Islam masih membutuhkan upaya dan usaha yang lebih kuat dan maksimal di masa yang akan datang,” tegasnya.
Ulama senior asal Negeri Gajah Putih, Dr. Ali Samuh memberikan sambutan dalam rekaman video. Ia mengatakan, pembelaan kepada Nabi Muhammad adalah bagian yang tidak terpisahkan dari keimanan seorang Muslim.
“Di dalam Surah Al Fath ayat 9, Allah menyebutkan hak Rasulullah untuk dimuliakan dan diagungkan oleh setiap manusia. Maka hak itu harus ditunaikan oleh kita selaku umatnya,” paparnya.
Dr. Jeje Zainuddin yang juga Sekretaris Umum Ikatan Ulama dan Dai se-Asia Tenggara menegaskan pentingnya seminar ini. Secara khusus ia meminta Kementerian Hukum dan HAM untuk merespons dan memberikan pembelaan terhadap kasus ini.
Tak ketinggalan, dai kondang Indonesia, Ustadz Abdul Somad (UAS) dalam rekaman suara juga memberikan sambutan.
“Para politikus dan negarawan selalu bereaksi cepat dan tanggap untuk membela negara dan tanah air mereka ketika ada hal yang merendahkan negara dan bangsa. Maka bukan hal yang tabu jika setiap Muslim melakukan pembelaan terhadap Nabi yang sangat mereka cintai,” tegas UAS.
Selain nama-nama di atas, anggota Rabithah lain yang turut hadir sebagai pembicara adalah Dr. Abul Akhoir Tarason dari Filipina, Dr. Bashirun dari Vietnam, dan Dr. Abdul Basith dari Malaysia.
Acara diakhiri dengan pembacaan pernyataan sikap resmi dari Ikatan Ulama dan Dai se Asia Tenggara (Rabithah Ulama wa Duat Januub Syarq Asia) yang teks aslinya berbahasa Arab.
“Kejahatan verbal yang dilakukan oleh politikus wanita India harus dihentikan dan dia harus dimakzulkan dari jabatannya,” di antara bunyi pernyataan para ulama dan dai Asia Tenggara tersebut.
Seminar berbahasa Arab ini diikuti oleh lebih dari 300 peserta online via aplikasi Zoom Meeting dari berbagai negara. Ditambah pemirsa yang dapat mengakses acara dari awal hingga akhir melalui kanal Youtube. Seminar ini dilaksanakan pada Kamis, 10 Zulkaidah 1443 H (09/06/2022 M).
Diketahui, penghinaan yang dilontarkan oleh Sekretaris Partai Bharatiya Janata yang berkuasa di pemerintahan negara India itu juga memicu reaksi di berbagai negara.*