Hidayatullah.com — Wakil Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Prof Dr KH Didin Hafidhuddin MS menilai bahwa penyelesaian persoalan Palestina membutuhkan keputusan politik. Pernyataan tersebut menanggapi peristiwa penyerangan Jalur Gaza oleh penjajah Zionis ‘Israel’ baru-baru ini.
Didin mengaku menyayangkan penjajahan Palestina yang masih terus berlangsung. Selama ini, kata Didin, umat Islam secara pribadi-pribadi sudah memberikan usahanya dalam membantu Palestina.
“Usaha-usaha umat Islam adalah membangun ukhuwah kemudian mewujudkannya dengan memberikan bantuan sosial,” kata Kiai Didin dalam kajian di Masjid Al Hijri II, Kota Bogor, Ahad (7/8/2022).
“Umat Islam secara individu-individu selama ini sudah membantu bahkan banyak relawan yang datang ke Gaza memberikan bantuan langsung,” tambah Ketua Umum Badan Kerjasama Pondok Pesantren Indonesia (BKsPPI) itu.
Namun menurutnya, untuk menyelesaikan masalah Palestina dibutuhkan adanya keputusan politik. Harus ada upaya nyata melalui kekuatan negara dan lembaga internasional yang kuat dalam membantu Palestina.
“Seharusnya pemerintah dan lembaga-lembaga yang kuat harus terlibat, tidak boleh ada suatu negara terus dizalimi oleh negara lain,” jelasnya.
Seperti diketahui, selama beberapa hari berturut-turut, serdadu zionis ‘Israel’ menggempur wilayah Gaza.
Pada Sabtu (6/8/2022) pagi, penjajah melakukan serangan udara di sejumlah daerah di Gaza, yang menewaskan dua warga dan melukai beberapa lainnya.
Terkini, Kementerian Kesehatan Palestina memperbarui jumlah korban Palestina dalam agresi ‘Israel’ terbaru yang sedang berlangsung di Jalur Gaza. Sebanyak 24 gugur (termasuk 6 anak-anak) dan 203 orang terluka.
Kementerian Kesehatan mengatakan bahwa jumlah korban gugur dari pemboman penjajah di Jalur Gaza, yang berlanjut untuk hari kedua, naik menjadi 16 di samping 165 terluka, kata sebuah pernyataan.
“Saya mengutuk serangan udara Israel di Gaza yang diduga ‘mencegah’ kemungkinan pembalasan Jihad Islam atas penangkapan pemimpinnya,” kata Pelapor Khusus PBB, Francesca Albanese, dikutip Palestine Cronicle.
“Karena Hukum Internasional hanya mengizinkan penggunaan kekuatan untuk membela diri, Operasi Breaking Dawn adalah tindakan agresi yang mencolok,” tambah Francesca Albanese dalam ciutannya di akun twitter.
Di antara 16 orang yang gugur, kata pernyataan itu, seorang gadis berusia 5 tahun. Jumlah atau korban gugur dan terluka meningkat setelah penjajah mengebom sebuah rumah di Jabaliya dan satu lagi di Rafah.
Kementerian menyatakan bahwa ada kekurangan 40 persen peralatan dan obat-obatan dasar, dan 60 persen kekurangan peralatan laboratorium karena penutupan penyeberangan Jalur Gaza oleh ‘Israel’, yang dimulai empat hari lalu.




