Hidayatullah.com— Direktur The Community of Ideological Islamict Analyst (CIIA), Harits Abu Ulya mengaku geregetan dengan narasi-narasi perempuan berpistol berniat menerobos Istana Negara di Jakarta, termasuk narasi anggota HTI. Menurutnya, semua narasi dinilai over dan terkesan serempak digaungkan media dengan sumber utama yang sepihak dan jejaringnya.
“Dari gesture nya itu sosok pribadi yang punya problem kejiwaan. Perlu pemeriksaan psikologisnya. Bisa saja dia “mainan” atau seperti di jadikan “alat simulasi” oleh pihak tertentu terkait dengan isu keamanan,” ujarnya dalam pernyataan hari Rabu, (26/10/2022).
Menurut Harits, tindakan yang dilakukan pelaku sebenarnya bukanlah ancaman serius. “Dengan pistol rakitan, yang entah amunisinya itu bisa ditembakkan atau tidak. Jadi tidak perlu dibesar-besarkan dan membangun narasi yang tidak proporsional sama sekali,” ujarnya.
Apalagi sampai dimunculkan isu ISIS di balik tindakan itu. “Menurut saya narasi tersebut sudah kadaluwarsa,” tambahnya.
Sebelumnya, Ketua LBH Pelita Umat Ahmad Chozin mengatakan, kesimpulan BNPT mengaitkan perempuan ‘berpistol’ yang mencoba menerobos Istana Merdeka mantan anggota HTI fitnah tidak berdasar.
“Setelah mencabut BHP HTI, rezim ini tidak pernah puas menzaliminya. Masih saja, mengedarkan fitnah keji terhadap HTI, tanpa bukti dan langsung mengedarkannya kepada publik,” ujar Ahmad Khozinuddin dalam pernyataan yang dikirimkan kepada redaksi hidayatullah.com, Rabu, (26/1/2022).
Ahmad Khozinuddin menilai seharusnya BNPT menunggu hasil investigasi kepolisian, tidak langsung menuduh sepihak. “Agak lucu jika BNPT yang berspekulasi dengan menuduh HTI. Padahal, belum ada hasil BAP dari si wanita yang diklaim radikal tersebut oleh pihak kepolisian,” ujarnya.
Dilain pihak, Kapolda Metro Jaya Irjen Pol Fadil Imran meminta semua pihak untuk bersabar dan tidak menimbulkan spekulasi terkait peristiwa penodongan pistol yang dilakukan oleh seorang perempuan di depan Istana Negara, Jakarta Pusat, Selasa (25/10/2022). Fadil mengatakan bahwa kasus tersebut belum tentu kaitannya dengan terorisme yang biasanya terjadi.
”Masih banyak kemungkinan yang bisa terjadi. Belum tentu teror,” kata Fadil, Selasa (25/10/2022).*