Hidayatullah.com– Pihak Kedutaan Besar (Kedubes) Suriah untuk Indonesia menggeledah sejumlah mahasiswa Muslim yang ingin berdiskusi dengan pejabat Kedubes, Senin (09/05/2016).
Hal itu diungkapkan oleh Ketua Forum Silaturahim Lembaga Dakwah Kampus se-Jakarta, Depok, dan Bekasi (FSLDK Jadebek), Syukron Muchtar, dalam orasinya di depan Kantor Kedubes Suriah, Jl Karang Asem I no. 8, Kuningan, Jakarta.
Di depan ratusan massa dari berbagai organisasi dan komunitas, Syukron menuturkan, awalnya, Senin pagi itu, massa FSLDK berkumpul di depan Kantor Kedubes Suriah. Mereka hadir dalam aksi simpatik peduli Aleppo, Suriah, yang sedang dibombardir rezim Bashar Al-Assad dan sekutunya.
Saat itu, massa menyampaikan sejumlah tuntutan dalam siaran pers yang telah mereka sebarkan. Agar lebih didengar, mereka ingin menemui langsung pejabat Kedubes di kantornya. [Rilisnya diberitakan hidayatullah.com di sini!]
“Kami ingin masuk, berdialog, berdiskusi, untuk menyampaikannya langsung (tuntutan),” ujar Syukron.
Awalnya, kata dia, mereka meminta agar pihak Kedubes menerima 5 orang perwakilan FSLDK. “Sayang, saat itu kami tidak diperkenankan masuk,” imbuhnya.
Mereka pun bertekad tidak meninggalkan lokasi hingga keinginan berdialog dengan pejabat Kedubes Suriah terpenuhi. Massa kemudian shalat Zhuhur di lokasi aksi.
Usai itu, tutur Syukron, mereka menempuh berbagai cara agar bisa diterima oleh pejabat kedubes. Di antaranya dengan menelepon pihak Kementerian Luar Negeri RI, yang kemudian mengomunikasikannya dengan Kedubes Suriah.
Akhirnya, singkat cerita Syukron, pihaknya diterima untuk berdialog, tapi hanya dua orang perwakilan. Yaitu Syukron yang juga dari LDK Al-Fatih LIPIA dan Rangga Kusumo (LDK Salam UI).
“Dua orang (diterima), dengan catatan, tidak boleh membawa alat media apa pun, (seperti) kamera, HP, dan lain-lain,” ungkapnya.
Di dalam kantor kedubes, dua orang itu diperiksa oleh petugas keamanan, dipastikan benar jika tak membawa alat-alat dimaksud. “Kami digeledah, jaket dibuka, almamater dibuka, HP ditahan,” tuturnya.
Dalam pertemuan itu, perwakilan FSLDK diterima oleh Wakil Dubes, Abdullah Karim, pria berkebangsaan Suriah. Beberapa polisi mengawal.
Mereka pun menyampaikan sejumlah hal kepada Karim. Di antaranya, meminta penjelasan tentang apa sebenarnya yang terjadi di Suriah.
Sayangnya, kata Syukron, Wakil Dubes tidak menjawab dengan jelas. Malahan, kata dia, Wakil Dubes meminta mereka bertanya langsung kepada Kedubes RI di Suriah.
“Bukankah kalian punya Kedubes?” tanya Karim seperti ditirukan Syukron. Pembicaraan itu berlangsung dalam bahasa Arab.
Dalam pertemuan singkat itu, kata Syukron, pihak Kedubes enggan menjelaskan ihwal sebenarnya di Suriah. Di ujung pertemuan, FSLDK menyampaikan tuntutannya, dan meminta tuntutan itu disampaikan langsung kepada Presiden Suriah, Bashar Al-Assad.
“Kami ingin bukti otentik, (berupa) tanda tangan bahwasanya Anda (Karim) bersedia menyampaikan tuntutan ini kepada Bashar,” ujar Syukron saat itu seperti ditirukannya kembali.
Namun, kata Syukron, Karim tidak bersedia menandatangani pernyataan kesediaan menyampaikan tuntutan umat Islam itu kepada Bashar Al-Assad.
Kata Karim menurut Syukron, jika ia tidak menandatangani pernyataan itu, tuntutan itu akan disampaikan. “Tapi jika ditandatangani, tidak akan disampaikan ke Bashar,” ujar Karim menurut Syukron.
Usai pertemuan itu, di tempat yang sama, perwakilan massa lain dalam aksi #StopBurningAleppo (Hentikan Pembakaran Aleppo) juga ingin berdialog langsung dengan pejabat Kedubes Suriah.
Massa sempat agak bersitegang dengan pihak Kedubes. Beberapa orang pun masuk ke kantor, lalu tahu-tahu keluar lagi. “Kedubes belum bisa menerima, dijanjikan nanti,” ujar salah seorang perwakilan itu kepada hidayatullah.com.
Aksi damai ini dihadiri sejumlah lembaga dan komunitas. Di antaranya Spirit of Aqsa, Adara Relief International, Komunitas Punk Muslim, Syam Organizer, Sahabat Suriah, dan Sapa Islam. [Baca: Krisis Aleppo, Pejabat Kedubes Suriah Didesak Tinggalkan Indonesia]*