Hidayatullah.com– Bertempat di lapangan Perumahan Palem Bintaro, Tangerang Selatan, Banten, Kamis (02/08/2018), sekitar 20-an anak dan pemuda punk berkumpul, mereka datang dari daerah sekitar Tangerang.
Sebagian di antara mereka telah meninggalkan dunia jalanan dan sebagian masih berkeliaran di jalan. Namun mereka semua yang dulu hidup bersama di jalanan bertekad untuk berubah menjadi pribadi yang lebih baik.
Dunia anak jalanan atau yang sering disebut anak punk memang tak pernah lepas dari hal-hal negatif. Kehidupan mereka identik dengan kehidupan jalanan yang keras.
Mulai dari pergaulan bebas, kekerasan, mengisap lem, menenggak miras, jarah badan dengan tato, dan lainnya. Mereka bertahan hidup sebisa mungkin dengan berbagai cara. Namun, sekeras-kerasnya hidup mereka, anak punk adalah manusia biasa yang punya rasa.
Seperti halnya yang diakui oleh Dedi, mantan anak punk yang menjadi pemarkarsa berkumpulnya anak-anak punk di Bintaro.
Dedi yang saat ini sudah berkeluarga telah hijrah dan meninggalkan “jalanan” semenjak punya niatan akan menikahi wanita pujaan hatinya yang saat ini menjadi istrinya.
Dedi sudah mendapatkan pekerjaan yang pasti, dia sudah rajin shalat di masjid dan aktif ke pengajian.
Dia sadar apa yang dilakukan dulu keliru, sehingga akhirnya bertobat. Salah satu bentuk tobatnya adalah dengan mengikuti program hapus tato yang diadakan oleh lembaga pelayanan kesehatan Islamic Medical Service (IMS).
“Kehidupan masa lalu saya kurang baik, saya sadar itu semua salah. Alhamdulillah saya bersyukur dipertemukan dengan orang-orang baik yang mendukung keinginan saya untuk hijrah secara total. Saya ingin berdakwah di komunitas saya dulu sesuai dengan kemampuan yang saya miliki,” Dedi bercerita disampaikan kepada hidayatullah.com oleh IMS.
Baca: Ide Relativisme Agama dan LGBT Ada di Komunitas Underground Sejak Lama
Lain halnya dengan Ally, 24 tahun, dengan nama tongkrongan “Botak”. Menurutnya, sisi positif anak punk yaitu kebersamaan dan solidaritas.
Kedekatan mereka sesama anak jalanan melebihi kedekatan dengan saudara kandung dan keluarga yang lainnya. Susah senang selama bertahun-tahun dengan sesama anak jalanan telah dijalani.
Tidak hanya Dedi dan Botak yang banyak cerita dan berbagi pengalaman hidup, anak-anak punk yang lainnya juga menceritakan kehidupan jalanan yang telah dan sebagian masih menjalaninya.
Baca: Pertama di Lapas Indonesia, Hapus Tato Napi Gratis akan Berkelanjutan
Akan tetapi, pada obrolan siang itu, semuanya sepakat pada satu harapan dan keinginan yang sama yaitu ingin menjalani hidup lebih baik.
Acara bertajuk kopdar ini berlangsung dengan santai dan cair, diawali dengan makan bersama. Nampak di antara mereka aktivis pemuda Muslim, M Isnaini, selaku penggerak sebuah komunitas dakwah yang bernama Gerakan Dakwah Komunitas Taqarrub atau disingkat dengan GARDA KOTA.

Dalam diskusi ringan itu juga digagas untuk dilakukan penghapusan tato kepada anak-anak jalanan, mereka bersepakat mengatasnamakan dirinya dengan PUNK HIJRAH. Dijelaskan oleh Imron Faizin selaku Direktur IMS, bahwasanya akan dibuatkan mekanisme tersendiri khusus untuk Punk Hijrah.
Sebelum berpisah, ada kenangan-kenangan untuk anggota Punk Hijrah dari Yayasan Wakaf Qur’an Suara Hidayatullah (YAWASH) berupa mushaf al-Qur’an. Meskipun sebagian besar di antara mereka belum bisa membaca al-Qur’an, namun mereka bertekad untuk belajar.*