Anak-anak korban gempa di pengungsian Murmakem, Batu Lilir, Tanjung Lombok Utara, NTB, Sabtu (11/08/2018).
Bagikan
Hidayatullah.com– Sedikitnya tiga kali dihantam gempa bumi utama masing-masing berkekuatan 6,4 Skala Richter (SR), 7 SR, dan 6,2 SR dalam tiga pekan terakhir, belum termasuk ratusan gempa susulan, Nusa Tenggara Barat (NTB) porak-poranda di sebagian wilayahnya.
Berpuluh-puluh hari sudah ribuan warga korban gempa NTB mengungsi di berbagai titik pengungsian.
Aparat kepolisian dan warga di atas reruntuhan Masjid Jamiul Jamaah, Dusun Karang Pangsor, Pemenang, Lombok Utara, NTB, Selasa (07/08/2018), setelah dihantam gempa pada Ahad (05/08/2018). [Foto: Sirajuddin Muslim/hidayatullah.com]
Di tengah segala keterbatasan, baik sarana dan prasarana, maupun persediaan logistik harian, para pengungsi mencoba bangkit.
Tim SAR Gabungan mengevakuasi salah seorang mayat yang tertimbun reruntuhan Masjid Jamiul Jamaah, Dusun Karang Pangsor, Pemenang, Lombok Utara, Rabu (08/08/2018) sekitar pukul 12.10 WITA. Mayat tersebut salah satu korban gempa NTB pada Ahad (05/08/2018). [Foto: Sirajuddin Muslim/hidayatullah.com]Kehadiran para relawan dari berbagai lembaga kemanusiaan, swasta maupun pemerintah, dalam dan luar negeri, sedikit banyak telah membantu para korban hidup terdampak gempa tersebut.
Tim SAR Hidayatullah-BMH dibantu warga dan para relawan lainnya mengevakuasi satu dari empat korban gempa bumi ke ambulans di Dusun Koloh Tanjung, Desa Pemenang Timur, Kecamatan Pemenang, Kabupaten Lombok Utara, NTB, Rabu (08/08/2018). [Foto: Sirajuddin Muslim/hidayatullah.com]Sementara itu, pasca gempa, kondisi yang serba darurat menimbulkan dampak psikologis dan medis. Gejala berbagai penyakit mengancam.
Suasana haru saat warga korban gempa mengantre berpelukan dengan khatib usai Jumatan pertama di masjid darurat, Desa Sigar Penjalin, Tanjung, Lombok Utara, NTB, Jumat (10/08/2018). [Foto: Sirajuddin Muslim/hidayatullah.com]