Hidayatullah.com — Ketua Komisi VIII DPR RI Yandri Susanto menanggapi kasus masjid di Dusun Kowang, Sragen, Jawa Tengah (Jateng) yang dirobohkan warga karena dijanjikan dana Rp 1,3 miliar untuk pembangunan kembali. Namun masjid tersebut belum dapat didirikan kembali karena rupanya ‘sang dermawan’ pemberi harapan palsu (PHP), tak jadi memberi donasi.
Yandri Susanto meminta warga lain berhati-hati jika ada ‘dermawan’ yang memberi janji serupa. Ia juga meminta polisi agar mengusut kasus ini.
“Ya masyarakat memang tetap harus hati-hati kalau ada yang datang menawarkan sesuatu tentu diverifikasi termasuk melibatkan Kemenag, Pak Camat, pemerintah daerah sehingga terverifikasi dengan baik, siapa ini orang, latar belakangnya apa, maksud dan tujuannya apa, jadi jangan sampai kena tipu,” kata Yandri kepada wartawan, Senin (4/4/2022).
Yandri meminta warga tak gampang terbuai rayuan. Dia berharap kasus ini menjadi perhatian bagi masyarakat lain.
“Ini harus menjadi perhatian tempat yang lain juga, jadi jangan gampang terbuai dengan rayuan, yang ngaku dermawan ternyata menjadi sebuah persoalan serius, apalagi masjid ini telah dirobohkan,” tutur dia.
Guna menyelesaikan kasus ini, Yandri meminta polisi melakukan penyelidikan. Di sisi lain, politikus PAN itu meminta agar warga tetap tenang.
“Jadi saya kira ini perlu diusut, perlu diselesaikan tapi tidak perlu dengan anarkis, tidak perlu dengan emosional, kalau perlu pihak yang berwajib turun tangan, dikejar siapa nih yang ngaku-ngaku dermawan,” katanya.
“Mungkin dia mau membangun tapi ada masalah dalam penyerahan, kita nggak tahu kan, kita berhusnuzan dulu, berprasangka baik. Tapi kalau ada unsur penipuan, unsur kesengajaan untuk melakukan hal-hal yang tidak benar, saya kira aparat wajib turun, supaya ini tidak menjadi kejadian yang berulang di tempat lain,” katanya.
Menurut Yandri, polisi harus mengamankan orang yang menjanjikan pembangunan masjid di Sragen itu. ‘Sang dermawan’ itu, kata Yandri, harus diklarifikasi.
“Dikejar dulu orangnya, kenapa, apa alasannya tidak jadi, apa di balik ini semua. Apa memang uangnya nggak ada, atau memang dari awal sudah ada unsur penipuan, saya kira ini perlu dipastikan dulu,” katanya.*