hidayatullah.com–Kita menginginkan Obama terpilih, kita berharap dia menangani permasalahan Timur Tengah dengan baik dan bisa meningkatkan hubungan dengan umat Muslim di dunia. Namun memilih Kairo serta kedekatannya dengan Palestina, mendorong Presiden Obama ke dalam posisi defensif dari situasi yang seharusnya dia pulihkan.
Pertama, Presiden Obama tidak dapat disalahkan jika warga Israel maupun warga Palestina tidak menyetujui ide atas sebuah negara kembar, paling tidak untuk saat ini, dan seperti yang telah dipertimbangkan sebelumnya. Bagaimanapun sesuatu yang berbeda mungkin segera muncul, diawali dengan pidato kebijakan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu minggu lalu, di mana pemimpin Hamas Khaled Meshal di Damaskus juga menawarkan sebuah kemajuan.
Perubahan dalam iklim politik tersebut menuntut perubahan-perubahan dalam kebijakan AS dan negara Barat, dan bukan untuk memaksakan kepada warga Israel atau Palestina atas apa yang tidak mereka inginkan. Tidak akan ada perdamaian abadi antara Israel dan Palestina tanpa legitimasi dan dukungan yang popular.
Anda tidak bisa dengan mudah menghapuskan sebuah pemerintahan yang terpilih secara demokratis di Myanmar atau di Palestina. Peninggalan dari pemerintahan Bush yang mendesak diadakannya pemilihan di Palestina dan kemudian menolak hasilnya, adalah hal yang tidak logis. Legitimasi harus dikembalikan melalui pemilihan dan rekonsiliasi Palestina, jika memungkinkan. Legitimasi tidak bisa dikembalikan dengan pengekangan terhadap Hamas.
Kedua, obsesi Israel dan negara Barat terhadap Iran dan perkiraan hitam dan putihnya divisi Timur Tengah antara pihak-pihak Saudi Arabia, Mesir dan Yordania, dan pihak-pihak yang radikal (Iran, Syria), bukanlah sesuatu yang tidak dapat berubah. Qatar yang dipicu oleh KTT Doha dan telah berbicara dengan Hamas, dan Saudi Arabia yang dipicu oleh kamp lainnya, dilaporkan telah setuju dalam pembicaraan Kairo tentang rekonstruksi Gaza untuk mendanai Gaza secara langsung dan bukan melalui otoritas Palestina. Hal ini bukan karena oleh perbedaan tersebut.
Patung Liberty AS disumbangkan ke AS oleh sejarah Iran dalam sebuah epos Revolusi Amerika. Iran lebih demokratis daripada beberapa negara Timur Tengah sekutu Amerika. Pada point ini AS dan negara Barat harus konsisten dengan prinsipnya, dan bukan dengan prasangka. Namun para ulama harus mengurangi pengekangan mereka terhadap demokrasi. Islam diremehkan ketika Islam terlalu dekat dengan perkumpulan yang terlalu banyak mengandung politik.
Mayoritas umat Muslim dunia, 80% dari mereka hidup di luar dunia Arab dan kebanyakan dari mereka telah mendukung demokrasi multi-partai, liberalisme perekonomian dan kemajuan, (khususnya di Indonesia, Pakistan, Bangladesh, India dan Nigeria). “AS seharusnya tidak menelantarkan cikal bakal tumbuhnya Muslim global, yang mencari modernisasi dan sebuah pemulihan hubungan dengan Amerika, dengan cara membiarkan sengketa Timur Tengah”.
Karena pondasi Islam, kultur sosial, dan politik Muslim, telah berjuang dengan paralelogram perekonomian, sosial dan kekuatan politik dari konflik kepentingan-kepentingan yang timbul di antara populasi perkotaan yang progresif, neo-feodalisme pedesaan, dan suku-suku perbukitan yang separatis konservatif, semuanya semakin diperparah dengan intervensi eksternal.
Dalam sebuah dunia yang global, yang terus-menerus semakin mengecil, konflik-konflik tersebut harus diselesaikan dengan sebuah perang melawan kemiskinan, kebodohan dan keterbelakangan/ketertinggalan dan bagi modernisasi Muslim, yang didukung oleh suara perencanaan pembangunan dan pembiayaan besar-besaran.
Pertempuran ini tidak dapat dimenangkan oleh Chinook dan peluru. Pasukan-pasukan negara Barat yang mencoba untuk memenangkannya secara militer akan dikalahkan. Hal ini memerlukan kesetaraan umat Muslim paska Marshall Plan 1945 yang membangun kembali Eropa, namun kali ini adalah saat untuk memodernisasikan masyarakat Muslim.
Masyarakat lokal harus mengambil tanggung jawab pokok dalam hal ini, dan akan menyambut dukungan negara Barat sebagai model perkembangan mereka sendiri. Tapi bukan untuk mengubah dunia Muslim menjadi sebuah medan peperangan militer yang didukung oleh negara Barat.
Tidak perlu meyakinkan opini publik Muslim global atas apa yang perlu dilakukan. Namun apa yang ditakutkan adalah masih ada satu lagi pengalihan sejarah ke dalam permainan catur politik internasional, dan bahwa obsesi Israel akan mendikte kebijakan luar negeri AS, di Timur Tengah dan dunia Muslim. Hal ini akan menjadi hal yang konyol dan menghina Amerika.
Presiden Obama seharusnya tidak perlu dibayang-bayangi kegagalan kebijakan Bush di Timur Tengah, yang memang harus diubah, mendikte ketentuan-ketentuan atas sebuah masa depan baru yang lebih cerah di mana untuk bersekutu dengan modernisasi Muslim secara global, saat ini dia telah membantu menciptakan perubahan bagi sebuah awal yang baru.
Penulis adalah ekonom yang berdomisili di Jakarta, Indonesia, yang menulis tentang modernisasi dalam dunia muslim, investasi dan hubungan perdagangan dengan Uni Eropa dan juga Islamic Banking.