Hidayatullah.com–Pemerintah Israel telah memutuskan untuk menyingkirkan istilah “bencana” yang dipakai oleh orang Palestina terkait pendirian negara Israel dari buku-buku teks untuk anak-anak sekolah Arab. Demikian dikatakan oleh Menteri Pendidikan pada hari Rabu.
Istilah “An-Nakba” dipakai orang Palestina untuk menyebut peristiwa berdirinya Israel, yaitu ketika perang yang mengharuskan 700.000 orang Palestina mengungsi atau dipaksa keluar meninggalkan rumahnya. Peristiwa perampasan tanah Palestina oleh Yahudi itu menjadi istilah dan tetap menjadi bahan perdebatan 60 tahun setelah Israel berdiri.
“Tidak ada negara lain di dunia, di dalam kurikulum resminya menganggap sejarah pendirian negaranya sebagai sebuah bencana,” Menteri Pendidikan Gideon Saar mengatakan hal itu kepada parlemen pada hari Rabu.
Hana Sweid, pembuat Undang-Undang keturunan Arab Israel, menganggap pemerintah menyangkal terjadinya An-Nakba. “Hal itu merupakan serangan besar terhadap identitas warga negara Israel keturunan Arab Palestina, terhadap kenangan dan terhadap jati diri yang melekat pada diri mereka,” katanya.
Para guru bebas untuk mendiskusikan tragedi nasional dan pribadi yang menimpa orang Palestina selama perang, kata Saar, yang mewakili Partai Likud garis keras yang sedang berkuasa. Tapi, buku-buku teks akan direvisi untuk menyingkirkan istilah tersebut.
Keputusan itu diberlakukan atas buku teks kelas 3 untuk murid keturunan Arab. Buku teks Yahudi tidak memuat istilah tersebut.
Sebuah kalimat dalam buku teks dimaksud menggambarkan perang Timur Tengah di tahun 1948, pada saat Israel dibentuk, berbunyi: “Orang-orang Arab menyebut perang itu Al-Nakba –sebuah perang yang menimbulkan bencana, kerugian, kehilangan, dan penghinaan, dan orang-orang Yahudi menyebutnya Perang Kemerdekaan.” [di/an/hidayatullah.com]