Hidayatullah.com–Presiden Palestina Mahmoud Abbas mengatakan, Presiden AS Barack Obama memberi kita harapan, tetapi kemudian meninggalkan kita di tengah jalan.
Komentar Abbas diterbitkan dalam sebuah wawancara dengan majalah Amerika “Newsweek”, sebagaimana dilansir laman IMEMC-News, Selasa (26/4). Abbas mengatakan, kepemimpinan Palestina mengenal Obama sebelum ia menjadi presiden, dan ia sangat bersimpati dengan Palestina.
Namun, Obama mengancam untuk menjatuhkan sanksi terhadap Otoritas Palestina jika bersikeras meminta PBB mengutuk kegiatan permukiman yang sedang berlangsung di Tepi Barat dan bersikeras untuk membekukan permukiman sebagai prasyarat untuk melanjutkan negosiasi.
Presiden Palestina menambahkan bahwa Obama yang menyarankan bahwa kegiatan permukiman harus membekukan sebelum proses perdamaian dapat dilanjutkan. Abbas menggunakan metafora, ia bersama Obama memanjat pohon bersama-sama, tetapi Obama mengambil tangga lantas pergi meninggalkan Palestina di pohon.
“Adalah Obama yang juga mengusulkan pembekuan permukiman sepenuhnya. Saya katakan, ‘Bagus, saya menerimanya.’ Kami berdua naik pohon. Setelah itu, Obama bergegas turun dengan tangga, dan ia mengambil tangga itu, lantai berkata pada saya, ‘lompatlah’. Tiga kali ia melakukan semacam itu,” kata Abbas.
Abbas juga mengkritik upaya mediasi AS yang dilakukan George Mitchell, yang telah berkali-kali berkunjung dalam waktu 2 tahun sebelum upaya perdamaian berhenti sepenuhnya.
“Setiap berkunjung, kami berbicara padanya dan memberinya sejumlah ide. Pada akhirnya, kami mengetahui bahwa dia tidak menyampaikan satu pun ide kepada Israel. Apa maksudnya ini?”
Otorita Palestina berencana meminta PBB untuk sebuah pengakuan atas Negara Palestina dengan perbatasan tahun 1967. Rencana ini saat ini mendapat penerimaan luas sejumlah negara, sekaligus penolakan oleh AS dan Jerman.*