Hidayatullah.com–Pakar dan kolomnis Mesir, Fahmi Huwaidi dikutip Pusat Informasi Palestina (PIC) mengungkapkan kekhawatiranya atas perlakuan pemerintahan sementara Mesir terhadap Sinai dengan mengedapankan kekerasan, bukan hukum.
Fahmi menilai, pemerintah Mesir menangani eksesnya bukan pada penyebabnya.
Apa yang dilakukan warga Sinai adalah sebuah dendam bukan berlepas diri. Apa yang ada di Sinai adalah Front Pejuang bukan bagian dari nasionalisme.
Melalui tulisannya di koran Syarq Ausat hari Kamis (12/09/2013). Huwaidi mengungkapkan keheranannya atas cara yang dilakukan pemerintah Mesir terhadap masalah terowongan dan perbatasan Gaza.
“Jika kejutan yang terjadi di Sinai, atas nama memerangi terorisme, apa yang terjadi pada perbatasan dengan Jalur Gaza sangat mengherankan kami. Kami tidak tahu alasannya persis, apakah itu kepentingan nasional atau yang lainya. Yang jelas kenapa ada pengehancuran terowongan perbatasan yang merupakan zona penyangga di sepanjang 13 kilometer di perbatasan Gaza. Saya merasa malu ketika diberitahu bahwa Israel adalah satu-satunya pihak yang diuntungkan dari penghancuran tersebut. Hal mana yang tidak bisa diperbuat oleh rezim Mubarak lima tahun lalu. Namun degan pemerintahan sekarang itu bisa dilakukan. Maka saya tak bisa menahan kemarahan warga atas hal ini,” ujarnya.
Ia menambahkan, sesorang tak bisa menerima logika bahwa aksi terhadap terowongan serta ilusi Mesir atas bahayanya terowongan tersebut merupakan kesuksesan yang nyata.
Sesorang yang masih punya nurani tentu akan mengkhawatirkan munculnya prahara kemanusiaan yang sedang mengancam Gaza saat ini. Apalagi kondisi perlintasan Rafah sebagai satu-satunya pintu menyalurkan bantuan kemanusiaan tak bisa digunakan. Masalahnya adalah karena mereka tidak mau.*