Hidayatullah.com–Seorang analis media Hosam Shaker mencermati bahasa tubuh tiga penjahat kemanusiaan dalam agresi gi Gaza tanggal 07 Juli 2014; Tiga elit Israel itu; PM Israel Benyamin Netanyahu, Menhan Moshe Ya’alon, dan panglima perang Israel Benny Gants.
Dalam analisis yang disampaikan di Brussel ia menegaskan, bahasa yang disampaikan ketiga elit Israel itu dinilai sangat buruk. Bahkan saat konferensi persnya Rabu (27/08/2014) pasca perjanjian gencatan senjata dengan Hamas, mereka terlambat sehari dari yang dijadwalkan.
Menurut analisis Hosam Shaker, seperti dikutip Pusat Informasi Palestina (PIC), bahasa tubuh dari tiga elit politik dan militer Zionis itu menegaskan mereka sedang mengalami tekanan, stress dan perasaan tidak menentu.
PM Israel Benyamin Netanyahu, Menhan Moshe Ya’alon, dan Panglima Perang Israel Benny Gants dinilai sangat lelah secara psikis, tidak berdaya mengadapi public Israel dengan pesan lisan yang terstruktur atau sekadar menunjukkan keseriusan atau saat memberikan ancaman kepada Palestina.
Semua kata-kata yang keluar dari mereka saat konferensi pers sangat kering dan menyimpan kekhawatiran mendalam di masa mendatang.
Nentanyahu misalnya, dinilai bahasa tubuhnya terlihat sangat terlihat tanda-tanda kelelahan, kurang tidur.
Pemandangan yang sama tanpak pada Netanyahu saat sepeken agresi yang ke Gaza yang dikagetkan oleh kejutan dari kelompok perlawanan Palestina.
Netanyahu juga lebih sering menundukkan kepala saat konferensi untuk menengok catatan tertulisnya dan sering berkedip.
Netanyahu juga terlihat mengisyaratkan dengan kepalanya bukan tangannya saat bicara tentang “pasukan kami yang heroic” ke arah Ya’alon dan Gants. Hal itu berbeda dengan kebiasan Netanyahu.
Dan begitulah Netanyahu mengalami ketidakstabilan emosi saat konferensi pers hingga berakhir.

Ya’alon Bingung
Saat menyebut kehebatan pasukan Israel, matanya memandang ke titik yang jauh ke arah kiri. Ini dinilai oleh pakar bahasa tubuh sebagai ungkapan ketidak konsentrasian dan kesulitannya menerima kenyataan sulit.
Sementara Gant saat bicara dinilai mengalami tekanan berat yang terlihat dari duduknya yang berada di ujung meja dan lebih jauh dari podium dan separuh wajahnya bagian bawah disembunyikan di balik tangannya.
Seharusnya Gant tanpak dengan wajah sedikit memerah. Namun sepanjang duduk, ia tak berhenti menggerakkan tangannya, lengan, dan kepalanya yang menunjukkan wajah sedang terkena krisis dan tekanan.
Yang mengalihkan perhatian adalah sikap Gants yang berkali-kali menggaruk dengkulnya. Sikap ini sangat tidak layak dengan pejabat tinggi.*