Hidayatullah.com–Kepala Pasukan Keamanan Harakah al-Muqawamah al-Islamiyah (Gerakan Perlawanan Islam/Hamas) di Jalur Gaza, Tawfiq Abu Naim, terluka saat mobilnya meledak dalam sebuah upaya ‘pembunuhan yang gagal’.
Direktur Jenderal Keamanan Internal Hamas, Tawfiq Abu Naim, selamat dari usaha pembunuhan tersebut kemarin, setelah mobilnya meledak di kamp Pengungsian Nusseirat, PIC.
“Dia hanya terluka ringan dan dirawat di rumah sakit. Pasukan keamanan telah memulai penyelidikan untuk mengetahui kejadian tersebut dan menangkap para pelaku, “ kata seorang pejabat Hamas.
Juru bicara Hamas Fawzi Barhoum menggambarkan upaya pembunuhan hari ini sebagai tindakan pengecut yang dilakukan oleh musuh rakyat Palestina.
“Para calon pembunuh gagal dalam usaha mereka untuk membahayakan keamanan Gaza, persatuan rakyat kita, dan kepentingan nasional Palestina,” kata Barhoum dikutip Middle East Monitor.
Ia kemudian mendesak aparat keamanan Gaza untuk membawa para penjahat ke pengadilan dan bertindak tegas dengan mereka yang akan mencoba untuk menyakiti keamanan rakyat Palestina.
Abu Naem ditunjuk menjadi kepala Pasukan Keamanan Dalam Negeri Palestina di Gaza pada Desember 2015. Ia adalah komandan eks tawanan di penjara Israel dan selama 22 tahun mendekam di sana. Ia dibebaskan saat pertukaran tawanan Wafa Ahrar yang diteken Hamas pada 2011 untuk membebaskan sandera tentara Israel Gilad Shalit.
Insiden tersebut terjadi saat terjadi ketegangan di Gaza saat Hamas akan menyerahkan pemerintahan dan kekuasaan di Jalur Gaza ke Otoritas Palestina yang dikendalikan Fatah yang dipimpin oleh Presiden Palestina Mahmoud Abbas.
Kedua belah pihak telah menandatangani sebuah perjanjian damai dan menyetujui pemerintahan nasional bersatu.
PA dijadwalkan mulai mengendalikan Jalur Gaza pada 1 Desember 2017.
Hamas mengambil alih kendali Gaza pada 2007 setelah mengalahkan Fatah secara mutlak dalam pemilihan lokal. Hamas lebih dekat di hati rakyat Palestina sementara Fatah yang sekuler banyak dikendalikan Israel dan Amerika Serikat (AS).
Hamas beberapa kali dipaksa mengakui keberadan Penjajah Israel dan diminta meletakkan senjata, namun gerakan pejuang pembebas Palestina tersebut menolak untuk melakukannya.
Pembunuhan serupa pernah terjadi kepada mantan Kepala Biro Politik Hamas, Khalid Misy’al pada 25 September 1997.
Baca: Kisah Duel Agen Mossad dengan Pengawal Pribadi Khalid Misy’al
Khalid Misy’al kala itu menjadi target pembunuhan yang dilakukan agensi intelijen Israel, Mossad, dibawah perintah PM Benjamin Netanyahu. Pembunuhan dimaksudkan sebagai bentuk pembalasan atas bom Pasar Mahane Yehuda 1997.
Saat percobaan pembunuhan, dua agen Mossad membawa paspor Kanada palsu memasuki Yordania, tempat dimana Khalid Misy’al tinggal. Agen-agen Mossad menunggu di pintu masuk kantor Hamas di Amman. Ketika Misy’al masuk ke kantornya, salah satu agen datang dari belakang dan melekatkan perangkat khusus ke telinga kiri Misy’al yang ditransmisikan racun reaksi cepat. Segera setelah itu, dua agen Israel tersebut ditangkap.
Hamas sebelumnya menunjuk ke Israel jika terjadi tindakan semacam itu, meski tidak mengatakan siapa yang berada di balik serangan bom mobil pasca shalat Jumat tersebut.
Warga Palestina di wilayah yang dikuasai Hamas selama beberapa bulan terakhir telah menghadapi kesulitan dan batasan, termasuk pemotongan konsumsi listrik, dan pemotongan gaji yang dibayarkan PA. *