Hidayatullah.com–Aktivis berumur 25 tahun yang berjalan kaki dari Swedia ke Palestina untuk meningkatkan kesadaran tentang pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) di wilayah penjajahan berharap dapat menyelesaikan perjalanannya pada Kamis ini.
“Besok Saya akan menempuh perjalanan terakhir saya dan tiba di perbatasan Palestina yang dijajah,” Benjamin Ladraa menulis di akun Instagramnya pada Rabu (04/07/2018).
“Kemungkinan besar tentara penjajah ‘Israel’ tidak akan memperbolehkan saya memasuki Palestina jadi Saya mempunyai sebuah permintaan pada jika ini terjadi,” tulisnya, meminta para pendukung untuk bergabung dengannya dalam meningkatkan kesadaran tentang pelanggaran HAM yang dilakukan ‘Israel’ terhadap rakyat Palestina.
“Jika mereka tidak memperbolehkan saya masuk besok, ini merupakan kesempatan yang sangat bagus untuk mencoba dan membuat media di seluruh dunia berbicara mengenai bagaimana ‘Israel’ menghalangi para aktivis HAM memasuki Palestina. Jadi saya membutuhkan semua orang untuk menghubungi sebanyak mungkin agens berita, koran harian, stasiun TV dll dan membagikan kisah ini,” minta Ladraa dikutip dailysabah.
Baca: Kampanyekan HAM, Aktivis Swedia Berjalan Kaki Menuju Palestina .
Ladraa sampai di Jordania pada 26 Juni, dan dia berencana untuk masuk ke Palestina melalui Tepi Barat.
Ladraa mengatakan dia menGoogle kantor media di tiap negara yang dia lewati dalam perjalanannya, untuk meminta mereka meliput tindakannya. Daily Sabah menemuinya di Ankara pada April untuk mendengar kisahnya dan ikut membantunya.
Dia meminta pengikutnya di Instagram untuk menyaksikan perjalanannya pada Kamis dan Jumat untuk ikut menyaksikan bagaimana otoritas penjajah ‘Israel’ menanggapi aktivis pendukung Palestina, dan untuk menyadarkan dunia jika mereka tidak memperbolehkannya masuk.
“Biarkan dunia tahu kalau mereka sedang menyembunyikan kejahatan mereka dengan tidak memperbolehkan orang-orang yang akan menyaksikann (kejahatan ‘Israel’),” tulisnya.
Ladraa, yang dilahirkan dalam keluarga Yahudi, keluar dari pekerjaan dan kuliahnya dan mulai berjalan pada 8 Agustus tahun lalu, setelah kunjungannya selama tiga minggu ke Palestina membuka matanya atas pelanggaran HAM yang dilakukan ‘Israel’ terhadap rakyat Palestina di wilayah yang terjajah.
Baca: WalkToPalestine Masuki hari ke 200, Benjamin Ladraa Terus Berjalan
Ladraa mengalami berbagai pengalaman positif dan negatif selama melewati 13 negara termasuk Turki dalam perjalanannya ke Palestina, seringkali dia berhenti untuk mengadakan perbincangan publik tentang Palestina.
Di Libanon, dia mengunjungi tujuh kamp pengungsi di mana orang-orang Palestina telah tinggal sejak diciptakannya negara Zionis pada thaun 1948.
Dia selalu membawa bendera Palestina di punggungnya dan kaffiyeh, simbol kemerdekaan Palestina, di pundaknya.
Dia menjual semua yang dia punya untuk mendanai perjalanannya, dan juga menerima donasi dari para pendukungnya. */Nashirul Haq AR