Hidayatullah.com–Suratan takdir yang ia terima membuat hati teriris. Musibah terjadi pada 10 Oktober 2015. Perempuan Palestina bernama Israa Jaabis (32) mengalami kecelakaan mobil saat sedang mempersiapkan pindah rumah dari tempat lama di Jabal a Mukaber, wilayah yang dijajah Zionis-Israel.
Mobilnya terbakar di dekat pos pemeriksaan penjajah Israel. Bukannya ditolong, Isaa Jaabis justru ditangkap dan dijatuhi hukuman 11 tahun penjara. Jaabis dituduh sengaja ingin meledakkan mobil.
Tanpa mendengar penjelasannya, pasukan penjajah itu mengamankan wanita berusia 32 tahun yang sedang mengalami luka bakar hingga 60 persen di sekujur tubuhnya. Dia sempat dirawat selama tiga bulan di Hadassah Ein Kerem Hospital sebelum akhirnya dipindah ke rumah sakit khusus tahanan Ramleh Hospital.
Namun karena fasilitas dan perlakukan yang begitu buruk, tahanan lebih suka menyebutnya sebagai rumah jagal. Jaabis dijebloskan ke penjara Hasharon, satu-satunya penjara untuk perempuan warga Palestina.
Karena perawatan yang tak memadai, delapan jarinya tak bisa diselamatkan. Kulit ketiaknya lengket sehingga membuatnya tak bisa mengangkat tangan. Telinga kanannya hampir hilang dan salah satu lubang hidungnya kini lebih lebar.
Baca juga pengakuan Israa: ‘Anda Tidak Mengerti Penderitaan Saya’
Ia juga mengalami gangguan saraf serta krisis psikologi. Di bawah ini pengakuannya yang dipetik dari laman www.wattan.tv berbahasa Arab.
“Saya menderita kram di tangan dan kaki, kram ini mencegah saya dari melakukan kegiatan sehari-hari dan saya selalu membutuhkan anak perempuan untuk melakukan hal-hal yang paling sederhana dan ini menyakitkan dan membuat saya merasa bahwa saya kurang dari orang lain, merasa terhina dan malu, merasa kerdil diri ini karena saya membutuhkan orang lain.
Saya sangat membutuhkan operasi untuk mengurangi sakit kram ini agar dapat melakukan sendiri hal-hal pribadi yg sederhana, akan tetapi sipir penjara selalu mempersulit permintaan saya, sejak penangkapan saya, mereka mengatakan bahwa operasi akan dilakukan pada bulan tertentu namun tidak ada yang terjadi, dan ini semakin memperburuk kondisi saya dari hari ke hari.
Setiap hari saya melihat cermin dan bayangan itu diam-diam menyakiti saya serta menghancurkan jiwa saya setiap harinya.
Saya sangat membutuhkan pengobatan agar dapat menghadapi kenyataan yang menyakitkan ini, betapa takut diri ini ketika melihat wajah di cermin, bagaimana dengan orang lain yang melihat saya dan apa yang dikatakan anak saya ketika ia melihat saya? Apakah dia merasa takut pada saya?
Ribuan pertanyaan hinggap di kepala setiap hari dan saya tidak bisa menjawabnya. Bahkan bertambah rasa takut, merasa hina dan rasa cemas. Saya mencoba untuk membantu diri ini akan tetapi tidak berhasil. Saya sangat memerlukan perawatan serta operasi untuk dapat hidup dengan situasi yang serba sulit ini, bahkan jika sakit ini mengantarkan saya pada kematian maka saya pasrah dengan kematian dan takdir Allah Subhanahu Wata’ala, akan tetapi apa yang saya derita memungkinkan saya tetap hidup jika dilakukan operasi dan mendapatkan perawatan secara manusiawi.
Perban yang menutupi luka bakar sangat menyulitkan gerakan saya bahkan dapat merobek luka, dan sipir penjara sangat tidak membantu saya.
Kedua mata saya terasa kering sehingga sakit sekali setiap kali terkena udara atau ketika dicuci dengan air, maka saya sangat butuh pengobatan mata, namun tidak ada yang mampu menjawab permintaan saya.
Saya memiliki gangguan pernafasan, serasa terbakar ketika bernafas lewat hidung sehingga mengharuskan bernafas lewat mulut, lubang hidung saya sangat kecil dan saya tidak mendapatkan pengobatan apapun meskipun kondisi saya semakin hari semakin buruk.
Saya kekurangan kalisum dan ini menyebabkan gigi saya rusak, saya meminta didatangkan dokter dari luar penjara namun setelah kesulitan yg terjadi akhirnya disetujui oleh sipir penjara untuk mendatangkan seorang dokter gigi dari luar, akan tetapi ia datang hanya sekali dan tidak kembali lagi.
Saya tidak bisa mengangkat tangan ke atas, gerakan tangan saya sangat terbatas karena melekat dengan ketiak saya. Pegawai kantor penjara dan dokter-dokter di sini tidak pernah mencoba membantu saya, padahal saya juga menderita gatal di kaki.
Telinga kanan saya ini terluka karena terbakar sehingga tidak berfungsi lagi dan banyak yang saya derita karena infeksi parah, saya sangat membutuhkan pengobatan telinga namun semua orang mengabaikan apa yang saya alami,” pungkasnya.*/Waode Aisyah