Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Wawancara

Pertama di Indonesia, Alat Ukur Dampak Zakat

Bambang S
Terakhir diupdate: 27 Mei 2020 22:02 10:02 pm
Bambang S
Dipublikasikan 27 Mei 2020 14:26
Bagikan
Bagikan

Hidayatullah.com | ZAKAT diyakini mampu meningkatkan kesejahteraan mustahik (penerima zakat). Betulkah begitu?

Tentu kita berharap demikian, karena tujuan zakat memang untuk mendongkrak kesejahteraan.

Cuma, selama ini belum ada alat ukur yang bisa memastikan dampak itu. Semuanya masih perkiraan. Inilah yang menjadi pemikiran Irfan Syauqi Beik, Direktur Pendistribusian dan Pendayagunaan Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS).

Irfan yang juga dosen ekonomi syariah di sejumlah perguruan tinggi ternama, seperti IPB dan Universitas Ibnu Khaldun Bogor ini, bersama istrinya, Laily Dwi Arsyianti lalu menyusun alat untuk mengukur dampak zakat. Namanya Model Center for Islamic Business and Economic Studies (CIBEST). Berikut petikan wawancara wartawan hidayatullah.com, Achmad Fazeri, dengan Irfan beberapa waktu lalu:

Bisa digambarkan Model Cibest?

Baca Juga

Pengamat Politik Internasional UI Sofwan Al-Banna Menampik Adanya Hubungan Kuat Hamas dengan Syiah
Kisah Hafizh Belajar Menghafal Qur’an: “Pahitnya” Bambu, Manisnya Pisang Goreng [2]
Kisah Hafizh Belajar Menghafal: Al-Qur’an Dieja Pakai Bahasa Latin [1]
Sinyo Egie, Pendiri Peduli Sahabat:  Pelaku LGBT Harus Punya Niat dan Keinginan Sembuh
Kisah Ustadz Hasan Ibrahim Bergabung Hidayatullah: Masuk Hutan, Batalkan Kuliah Madinah

Penelitian ini inspirasinya tidak datang tiba-tiba. Tapi sudah sejak saat saya mengambil S3. Desertasi saya tentang zakat, saya mengukur dampak zakat terhadap kesejahteraan mustahik (penerima zakat) dengan memakai indeks-indeks dalam ilmu ekonomi pembangunan konvensional. Saya pakai indeks kemiskinan dan indeks kesenjangan. Di Indonesia, ini penelitian yang pertama. Penelitian tentang zakat ada ‘miliaran’. Penelitian tentang kemiskinan ‘miliaran’. Demikian juga penelitian pengaruh zakat kepada kemiskinan juga ‘miliaran’. Itu saking banyaknya. Tapi meneliti pengaruh zakat kepada kemiskinan menggunakan indeks-indeks yang ada di dalam ekonomi pembanungan, di Indonesia waktu itu belum ada. Di dunia sudah ada tiga orang. Dua di Pakistan, salah satunya menjadi penguji desertasi saya. Satu lagi di Malaysia. Saya yang pertama di Indonesia. Jadi, saya menghadirkan sesuatu yang baru dalam dunia perzakatan di Indonesia.

Setelah berkecimpung di dunia zakat di Indonesia, saya melihat masih ada kekurangan. Semua itu hanya mengukur dari sisi materi. Padahal bicara kesejahteraan atau kemiskinan dalam Islam, tak hanya soal materi. Tapi juga aspek spiritual.

Lalu saya terinspirasi tipologi manusia dalam al-Qur’an berdasarkan kemampuannya memenuhi kebutuhan hidupnya. Ada empat golongan.

Ada yang material oke, spiritual oke. Ini berarti sejahtera. Contohnya ada di Surat an-Nahl ayat 97. Kedua, materialnya bermasalah, tapi spiritualnya oke, di Surat al-Baqarah 155-156. Ketiga, material oke, spiritualnya bermasalah, di Surat al-An’am ayat 44. Keempat, material bermasalah, spiritual juga bermasalah. Ini namanya kemiskinan absolut, ada di Surat Toha ayat 124.

Spiritual itu sesuatu yang kompleks. Bagaimana mengukurnya?

Bicara spiritual, ada tiga komponen. Yakni ibadah mahdoh, keluarga, dan kebijakan negara. Pada ibadah mahdoh ada tiga hal yang saya sorot: shalat, puasa, dan ZIS. Kita tak bisa mengukur takwa. Itu wilayah Allah Subhanahu Wata’ala. Tetapi kita bisa mendeteksi spiritual seseorang. Contoh shalat. Jika seseorang sengaja tidak shalat wajib, jelas dia miskin spiritual. Seseorang sengaja tidak puasa wajib, jelas dia miskin spiritual. Seseorang dalam sebulan atau setahun tak pernah berbagi, jelas miskin spiritual. Orang paling miskin pun harus berbagi. Berbagi bukan persoalan kaya miskin, tapi persoalan iman.

Keluarga, kalau tidak peduli lagi soal amar ma’ruf nahyi munkar, pasti keluarga itu miskin spiritual. Orang tua tak peduli anak shalat atau tidak, ini miskin spiritual. Tak peduli anaknya berjilbab atau tidak, ini jelas miskin spiritual.

Kebijakan pemerintah. Awalnya saya tidak masukkan unsur ini. Tapi saat kami sedang menyusun Model CIBEST ini lagi ramai kasus jilbab. Ada sebuah daerah yang melarang siswa berjilbab. Padahal jilbab ini wajib. Artinya, ada pemerintah daerah yang melarang ibadah wajib berupa jilbab. Nah, melihat fenomena itu akhirnya unsur kebijakan pemerintah saya masukkan sebagai salah satu aspek untuk mengukur kemiskinan spiritual. Kalau pemerintah sudah menghalangi kewajiban beribadah, itu termasuk miskin spiritual.

Dari masing-masing unsur tadi kemudian ada pembobotan. Ibadah 60%, keluarga 20%, dan kebijakan pemerintah 20%. Artinya, andaikan ibadah dan keluarganya bagus, lalu kebijakan negaranya kurang bagus, ia akan tetap oke secara spiritual.*

Redaktur: Bambang S
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:BaznasIrfan Syauqi Beikkemiskinanspiritualzakat
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Covid-19: Meskipun Masih Positif Pasien di Malaysia Akan Dikeluarkan dari RS Apabila Sudah Dirawat 14 Hari
Tulisan selanjutnya Pemerintah Sosialisasikan “Tatanan Normal Baru” Meski Pandemi Belum Usai

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Artikel

‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza

Artikel
3 Juni 2026 05:00
Putin Tawarkan Pembebasan Utang Bagi yang Mau Gabung Tentara
Warga Yunani Didakwa Membantu Iran untuk Menarget Jurnalis di Inggris
Influencer Singapura Didenda S$3.500 karena Mengiklankan Vape di Telegram
MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat

Terbaru

  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat

Mungkin Anda Juga Suka

Wawancara

Pakar Anti Feminisme Dr Norsaleha Mohd Salleh: Liberalisme dan Feminisme Itu Satu Paket

24 Juli 2021 17:03
baitul maqdis
Wawancara

Dr. Khalid el-Awaisi: “Kini Banyak Orang Islam Berhati Zionis”

11 Juni 2021 09:55
Masjid Al-Aqsha
Wawancara

Akademisi Gaza: “Dihujani Berton-ton Bom, Kami akan Tetap Bersandar pada Allah untuk Perjuangkan Masjid Al-Aqsha”

22 Mei 2021 10:45
Wawancara

Ahmad Sarwat: Salafi Termasuk Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah

15 April 2021 11:06
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?