Sirikit Syah (39). Nama yang sudah tidak asing di mata pengamat dan pengkritik media massa Indonesia. Melalui Lembaga Konsumen Media (LKM) yang ia dirikan bersama beberapa kawannya yang terdiri dari kalangan pers dan akademisi, Sirikit sibuk memantau dan mengkaji liputan dan tulisan-tulisan yang dimuat di berbagai media massa. Selain menjadi media watch, setiap bulan LKM menerbitkan news letter yang bisa dinikmati masyakat. Bahkan untuk urusan media watch ini, seminggu sekali wanita yang juga mantan freelancer The Jakarta Post ini melalui Radio Suara Surabaya (SS) harus melayani pertanyaan masyakat yang berisi keluhan atau kritikan terhadap pers.
Di rumahnya, di kompleks perumahan Rungkut Asri, Surabaya yang juga sebagai kantor LKM Hidayatullah Online mewawancarainya seputar merebaknya erotisme dan pornogradi di berbagai media terutama TV.
Omong-omong, apa pendapat anda tentang erotisme dan budaya buka aurat dalam media massa belakangan ini?
Saya sangat setuju dengan Perdana Menteri Malaysia, Mahathir Mohammad yang memberikan sensor pada media massa. Mungkin, bagi banyak kawan, Sirikit menghambat kebebasan pers. Tapi sekali lagi tidak. Sebab kebebasan pers tidak ada hubungannya dengan erotisme. Banyak orang mengatakan, model Malaysia dan Singapura itu jelek. Tapi saya juga heran, kenapa kita selalu menganggap Amerika itu terbaik dibanding Malaysia atau Singapura?. Saya sempat dengar lirik lagu Janet Jackson sempat dicekal di Malaysia dan Singapura karena dianggap mengundang birahi dan seks. Padahal hanya liriknya saja. Yang terakhir, saya senang ketika Indonesia mencekal lirik lagu ‘dirty’ dari Cristina Aquilera. Makanya saya kecewa kenapa xxx (menyebut penyanyi dangdut erotis asal Pasuruan Jawa Timur) dibiarkan.
Kalau mau para bapak dan anak-anak muda menikmati goyangan xxx, silahkan saja di tempat tertutup yang hanya dihadiri kalangan terbatas. Sebab goyangan xxx yang ditampilkan banyak televisi –dan saya sudah lihat semua VCD nya—hampir sama persis dengan tarian seks erotis streaptease –tarian telanjang ala Barat yang sering ditampilkan secara life di depan penonoton– yang pernah saya lihat saat saya mendapat beasiswa di Amerika atau di Jepang saat saya masih bekerja sebagai wartawan di SCTV dahulu. Jadi goyang si xxx itu ya mirip begitu.
Kalau mau begitu, silahkan di tempat terbatas. Bukan di panggung, di depan audience umum, apalagi di depan TV yang audience nya adalah banyak orang diantaranya ada anak kecil.
Sebagai seorang ibu sekaligus pengamat media massa, apa yang meresahkan anda dengan femona erotisme media massa yang dicontohkan si XXX tadi?
Yang mencemaskan adalah akan adanya imitasi atau peniruan. Kita ini bangsa yang baru yang belum matang dan terdidik. Ada seorang suami cerai gara-gara selalu nonton si xxx itu. Ada seorang kakek memperkosa gara-gara nonton dia jugal. Hal-hal seperti ini, kalau kita mau membuka kliping, banyak di Surabaya.
Tapi para sosiolog minta tidak usah mendengarkan sedikit contoh karena tidak mayoritas. Bagaimana orang pandai seperti para sosiolog bisa membutakan mata atas kejadian penting yang bisa menimpa banyak orang?. Ada yang berdalih, “Ini adalah geliat kaum miskin kota”, “Ini geliat gender”.
Tapi aneh-aneh para pembelanya. Ada yang bilang melarang sama halnya melarang hak kaum permpuan atau fenomena itu digambarkan sebagai geliat kaum marjinal perempuan dan gender. Alasan apa itu! Kalau geliat kaum marginal, mbok biarkan anak jalanan dan pengamen yang biAsa di buru dan dikejar-kejar itu memenuhi jalan raya dan kota-kota besar. Jadi yang berdalih itu menurut common sense itu tidak make sense.
Kalau banyak yang bilang itu selera harusnya tidak memaksakan untuk semua orang. Apalagi anak kecil. Dan tak usah menggunakan pembenaran-pembenaran yang tidak masuk akal. Kalau alasannya rakyat suka pornografi, apa boleh kita jual hal-hal berbau pornografi di mana-mana?. Jadi di mana batas pembenarannya?
Sejauh ini, imitasi atas media massa itu sampai mana?
Sekarang semua media massa di TV itu, para penyanyi dangdutnya sudah mulai ada perubahan dalam hal goyangan. Lihat saja, setelah si xxx, penyanyi-penyanyi dangdut malah semakin berani.
Yang berperan besar untuk membesarkan goyangan xxx, pornografi dan erotisme, ya media massa terutama televisi. Saya beberapa kali terlibat debat dengan para pengelola media massa. Ada sebuah penanggungjawab koran di salah satu media massa berdalih begini, “Kami hanya melayani masyakarat. Karena umumnya masyarakat suka”. Saya jawab, “Tidak, sama sekali tidak. Sebab, anda melalui media massa bisa memilih yang terbaik. Dan anda telah memilihkan yang itu (hal-hal erotis, red)”, jawab saya. (cha)