Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Wawancara

Aktor Keamanan Nasional Terbelah, Kudeta Turki Gagal

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 16 Juli 2016 18:52 6:52 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 16 Juli 2016 20:00
Bagikan
Arya Sandhiyudha dalam sebuah wawancara di stasitun TV
Bagikan

Hidayatullah.com–Usaha sekelompok militer Turki melapukan kudeta yang hanya berlangsung 5 jam setidaknya mencatat 161 orang tewas, 1440 orang terluka dan sekitar 3 ribu personel militer Turki ditangkap. Mengapa usaha kudeta militer ini gagal? Hidayatullah.com mewawancarai Arya Sandhiyudha, Ph.D, pengamat politik internasional lulusan program doktor bidang ilmu politik dan hub internasional dari Fatih Univsersity Turki.

“Ada banyak orang Turki yang anti-Erdogan belum tentu juga anti-kudeta,” ujar master bidang studi strategis dari RSIS NTU, Singapura ini. Apa maksudnya? Inilah petikan wawancaranya.

Kenapa Kudeta Turki Gagal?

Komplotan kudeta Turki pasti berharap  kejutan pagi dini hari waktu Turki ini menguntungkan mereka. Kecepatan aksi militer yang dikerahkan di kota-kota besar dan menguasai obvitnas menunjukkan kualitas pengorganisasian dan efisiensi kinerja mereka. Dalam situasi yang masih terus berkembang, ada sekitar 90 warga sipil meninggal dunia, 134 orang terluka, dan 1374 militer pro kudeta telah ditangkap. Namun, segala upaya kudeta kian melemah. Saya sendiri sejak awal menduga peluang gagal sangat tinggi karena beberapa hal.

Apa saja itu?

Baca Juga

Pengamat Politik Internasional UI Sofwan Al-Banna Menampik Adanya Hubungan Kuat Hamas dengan Syiah
Kisah Hafizh Belajar Menghafal Qur’an: “Pahitnya” Bambu, Manisnya Pisang Goreng [2]
Kisah Hafizh Belajar Menghafal: Al-Qur’an Dieja Pakai Bahasa Latin [1]
Sinyo Egie, Pendiri Peduli Sahabat:  Pelaku LGBT Harus Punya Niat dan Keinginan Sembuh
Kisah Ustadz Hasan Ibrahim Bergabung Hidayatullah: Masuk Hutan, Batalkan Kuliah Madinah

Polarisasi Faksi. Seperti yang kita lihat di tahun 2015 ketika pemilu Turki, AKP/ Partai Keadilan dan Pembangunan memenangkan 49,5 persen suara, negara ini sangat terpolarisasi antara kaum Sekuler, Islamis, Kurdi dan Nasionalis.

Turki memiliki sejumlah oposisi terhadap Islam yang menentang agenda politik berhaluan neo-Ottoman dalam arah kebijakan luar negeri Erdogan, tapi di sisi lain mereka pendukung Presiden yang absah secara demokratis.

Selain itu, ada banyak orang Turki yang anti-Erdogan belum tentu juga anti-kudeta, karena mengingat trauma ketidakstabilan ekonomi dan politik di masa lalu ketika kudeta terjadi di Turki. Upaya kudeta ini adalah jelas merupakan produk dari faksi elit dalam militer yang nampaknya tidak sukses untuk menjalankan kudeta.

Dalam kasus usaha kudeta ini, apa yang telah dicapai?

Pertama, menguasai transportasi. Tanda-tanda pertama dari kudeta itu terungkap melalui upaya sistematis pemotongan kendali atas jalur transportasi. Para prajurit ditempatkan di jembatan utama di Istanbul dan menyumbat beberapa jalan di Ankara dan Izmir. Pesawat Jet Turki F-16 terbang rendah di langit-langit Ankara. Warga sipil disuruh tinggal di dalam rumah. Bandara di seluruh kota ditutup dan penerbangan dihentikan.

Kedua, menggeser aktor utama. Menggunakan momentum ketika Presiden Recep Tayyip Erdogan berada di luar kota, tentara Turki mengepung markas Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP) di Istanbul. Tank menuju ke istana perdana menteri di Ankara, tetapi semua dibalas warga pemrotes dengan memblokir beberapa tank. Helikopter pro kudeta dilaporkan ditembak di istana ketika tank mendekat.

Ketiga, mengendalikan infrastruktur utama. Meskipun tidak jelas apakah listrik terputus di beberapa bagian dari kota utama Turki, jelas bahwa tentara melakukan sabotase terhadap beberapa infrastruktur utama pemerintah, seperti Dolmabahce Palace.

Keempat, menguasai media komunikasi. Beberapa media dan saluran komunikasi diambil alih oleh tentara, termasuk kantor televisi negara dan memerintahkan karyawannya untuk meninggalkan tempat. Karyawan media pemerintah diberitahu bahwa sekarang negara berada dalam tanggung jawab militer, sehingga mereka disarankan tinggal di rumah dan diberitahu bahwa siaran berikutnya akan ditunda hingga esok harinya. YouTube dan media internet lainnya diblokir beberapa saat dan dibuat melambat.

Lantas, apa yang tidak dicapai dalam upaya kudeta ini?

Para pro Kudeta belum sukses menaklukan dua komponen penting dari kriteria kudeta yang berhasil. Diantaranya; dukungan masyarakat dan soliditas aktor keamanan nasional.

Pertama, demokrasi telah menggariskan bahwa yang akan menentukan siapa yang keluar sebagai pemimpin di Turki adalah rakyat. Counter-coups mendukung Recep Tayyip Erdogan bergerak cepat dan massif, dan mereka keluar rumah pada dini hari mengungkapkan dukungan untuk presiden dan partainya.

Militer dikerahkan untuk melakukan pendudukan dan pengamanan di tempat-tempat umum utama seperti Taksim Square, tapi sekarang kehadiran aksi balasan lebih luas dan kuat. Polisi anti huru hara juga telah bergabung dengan para demonstran aksi balasan, menembakkan senjata di udara dan meminta tentara untuk meninggalkan tempat.

Meski militer menembaki demonstran di Jembatan Bosporus, mereka yang menghasut kudeta jelas malah makin kehilangan dukungan publik. Hal unik, Erdogan meskipun Presiden masih menjadi magnet gerakkan rakyat lawan kudeta di jalanan.

Klik militer juga salah kalkulasi duduki tempat strategis. TV nasional dikuasai, namun lupa provider satelitnya ada di tempat lain. Setelah siaran, blackout! Respon cepat kepala cabang AKP Istanbul juga menentukan. Ia pergi ke saluran TV swasta menyerukan warga untuk “menolak kudeta dan menuju ke bandara untuk menyambut kedatangan Erdogan.” Laporan terakhir menunjukkan bahwa pemerintah telah direbut kembali kontrol televisi negara.

Terakhir, kudeta yang sukses membutuhkan soliditas pasukan keamanan; Di Turki, tanda-tanda konflik di antara berbagai lapisan militer ternyata masih eksis. Diantara buktinya, diduganya Muharrem Kose sebagai aktor utama kudeta.

Sebelumnya, ditunjuknya Panglima Militer baru: Umit Dundar menggantikan Hulusi Akar, juga mengindikasikan itu. Helikopter pro kudeta yang menyerang kantor  Badan Intelijen Nasional Turki (MIT), diindikasikan sebab Kepala MİT Hakan Fidan merupakan orang kepercayaan Erdogan, sebagaimana Menhan Fikri Işık.

Belum lagi Kepolisian yang berperan sebagai ujung tombak penangkapan militer pro kudeta. Maknanya aktor keamanan nasional terbelah.

Hal lain, tidak bisa dinafikkan, pernyataan sikap anti kudeta dan dukungan terhadap pemerintahan sipil demokratis dari Amerika Serikat dan Jerman di awal juga partai-partai dan kelompok oposisi sangat berperan bagi gagalnya kudeta.

Secara internasional, mungkin dampak dari langkah normalisasi dengan beberapa negara seperti Israel dan Rusia. Seakan merefleksikan back to indepth strategi-nya Ahmet Davutoglu, mantan Menlu Turki dan mantan Perdana Menteri Turki.*

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:ErdogankudetaKudeta TurkimiliterRecep Tayyip ErdoganTurki
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya 161 Orang Tewas, 1440 Terluka, 3 Ribu Personel Militer Ditangkap dalam Percobaan Kudeta
Tulisan selanjutnya Mayoritas Warga Inggris Menolak Referendum Kedua Penentuan Brexit

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Warga Yunani Didakwa Membantu Iran untuk Menarget Jurnalis di Inggris

Berita
31 Mei 2026 04:41
Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah
Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
‘Israel’ Perketat Aturan Masjid, Pasang Pengeras Suara Harus Izin Zionis

Terbaru

  • Usai Serangan Drone Terminal Pelabuhan Mina al-Fahl Oman Beroperasi Kembali
  • Survei Terbaru Ungkap Mayoritas Masyarakat Dunia Tak Menyukai Israel
  • Polisi ‘Israel’ Rekrut Aktivis Zionis untuk Perkuat Kehadiran Yahudi Masjidil Aqsha
  • ‘Israel’ Beri Keringanan Pajak bagi Permukiman Ilegal Yahudi di Tepi Barat
  • Genosida ‘Israel’ di Gaza: Jumlah Warga Palestina Hilang Tembus 9.500 Orang
  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis

Mungkin Anda Juga Suka

Wawancara

Pakar Anti Feminisme Dr Norsaleha Mohd Salleh: Liberalisme dan Feminisme Itu Satu Paket

24 Juli 2021 17:03
baitul maqdis
Wawancara

Dr. Khalid el-Awaisi: “Kini Banyak Orang Islam Berhati Zionis”

11 Juni 2021 09:55
Masjid Al-Aqsha
Wawancara

Akademisi Gaza: “Dihujani Berton-ton Bom, Kami akan Tetap Bersandar pada Allah untuk Perjuangkan Masjid Al-Aqsha”

22 Mei 2021 10:45
Wawancara

Ahmad Sarwat: Salafi Termasuk Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah

15 April 2021 11:06
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?