Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Wawancara

Fahmi Salim Berdebat dengan Liberalis (2)

Bambang S
Terakhir diupdate: 28 Maret 2016 11:46 11:46 am
Bambang S
Dipublikasikan 28 Maret 2016 12:35
Bagikan
Ketua Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) DKI, Fahmi Salim
Bagikan

Sambungan wawancara PERTAMA

 

 Sejak kapan bersentuhan dengan pemikiran liberal?

Mulai  1997, saat duduk di bangku aliyah. Saya baca buku-bukunya Cak Nur (Nurchalis Madjid), antara lain Islam: Doktrin dan Peradaban. Saya juga membaca buku-bukunya Amien Rais dan Jalaludin Rahmat.

Biasanya remaja itu bacaannya novel atau cerpen, tapi Anda membaca buku-buku berat…

Baca Juga

Pengamat Politik Internasional UI Sofwan Al-Banna Menampik Adanya Hubungan Kuat Hamas dengan Syiah
Kisah Hafizh Belajar Menghafal Qur’an: “Pahitnya” Bambu, Manisnya Pisang Goreng [2]
Kisah Hafizh Belajar Menghafal: Al-Qur’an Dieja Pakai Bahasa Latin [1]
Sinyo Egie, Pendiri Peduli Sahabat:  Pelaku LGBT Harus Punya Niat dan Keinginan Sembuh
Kisah Ustadz Hasan Ibrahim Bergabung Hidayatullah: Masuk Hutan, Batalkan Kuliah Madinah

Karena saya di pesantren yang secara khusus mendalami ilmu agama. Semua pesantren tentu mendalami agama, tapi saya masuk kelas khusus namanya Madrasah Aliyah Program Khusus Pesantren Darussalam Cianjur Jawa Barat. Di kelas khusus ini kami dianjurkan memperbanyak membaca referensi, baik  berbahasa Arab maupun Inggris.

Setelah saya lulus dan lalu masuk Al Azhar (universitas yang ada Kairo Mesir), buku-buku itu saya bawa. Di situlah saya baru tahu jika buku-buku tersebut bermasalah.

Awalnya saya tertarik dengan pemikiran-pemikiran yang ada  di dalam buku tersebut. Saya ingin tahu, mengapa pemikiran mereka menarik banyak perhatian orang.

Di sisi lain, saya juga baca artikelnya Daud Rasyid yang mengkritisi pemikirannya Cak Nur.

Bagaimana reaksi teman-teman di Azhar setelah tahu Anda suka membaca buku-bukut tersebut?

Ada kakak kelas yang bertanya, mengapa baca buku-buku tersebut? Saya bilang hanya ingin tahu saja.  Mereka kemudian mengingatkan agar hati-hati, karena buat mereka pemikiran Cak Nur dianggap liberal dan bermasalah. Sejak saat itu, saya lebih intesif lagi mengkaji pemikiran-pemikiran liberal.

Tahun 2001 di Indonesia muncul Jaringan Islam Lebiral (JIL), bertepatan saya selesai S1. Reaksi umat sangat keras terhadap JIL, bahkan sampai ada ulama yang memfatwakan hukuman mati kepada pentolan JIl.

Perkembangan liberalisasi di Indonesia itu mendorong saya melakukan penelitian lebih jauh. Saat menyusun thesis S2 (2007), masih di Al Azhar, saya mengkaji secara kritis Hermeneutika yang diusung sebagai metode tafsir oleh kalangan liberal.

Anda tidak hanya  mengkaji pemikiran liberal, tapi beberapa kali berdebat langsung dengan mereka. Apa kesan Anda kepada mereka?

Memang saya beberapa kali berdebat dengan mereka. Pertama dengan Zuhairi Misrawi saat diundang untuk membedah bukunya berjudul Al Qur`an Kitab Toleransi. Kedua bedah buku Metode Studi Al Qur`an  karya Ulil Abshar Abddalla, Abdul Moqsith Gozali dan Luthfi Syaukani.

Dengan Ulil debat beberapa  kali. Pertama di Tvone temanya penghapusan kolom agama di KTP. Kedua, kawin beda agama di Tvone dan forum diskusi terbuka di sebuah hotel di Jakarta.

Kesan saya, setelah mempelajari tulisan dan bertemu langsung dengan mereka, dalam pandangan saya mereka kliru dalam memahami teks. Entah itu sengaja atau tidak. Ada kesan mereka menyembunyikan dan memanipulasi teks untuk menopang pemikirannya. Dan sepertinya pemikiran mereka itu sudah di-setting sedemikian rupa agar sesuai dengan konstelasi global. Kesan itu begitu kuat.

Konstelasi global ingin Islam dijinakkan. Mereka ingin umat Islam berislam secara konstektual dan moderat. Di sini moderat dalam pengertian liberal. Mereka merancang semua itu sudah sejak lama. Tepatnya sejak Harun Nasution melakukan reorientasi kurikulum pendidikan Islam di Perguruan Tinggi Islam sejak tahun 73-an. Dan program itu mendapat dorongan begitu kuat saat Menteri Agama dipegang Munawir Syadzali. Apalagi Munawir berhasil membujuk Pak Harto mendukung progamnya. Jadilah libiralisasi Islam mendapat dukungan mesin politik.

Apa yang terjadi sekarang, dengan munculnya Ulil dan kawan-kawan, merupakan buah  dari program yang dicanangkan sejak lama. Buah itu bakal terus bermunculan  karena mesinnya masih terus berjalan.

Anda bilang mereka tak memahmi teks. Itu karena kebodohannya atau by design?

Dari segi kemampuan, saya yakin mereka mampu membaca teks dengan sangat baik. Mereka hampir semua lulusan pesantren yang mampu membaca Kitab Kuning dan literatur Barat. Hanya mereka kemudian memutilasi teks sesuai kepentingannya.

Mereka punya niat yang keliru, yakni lebih didorong nafsu melakukan dekonstruksi terhadap Islam. Tapi sayangnya mereka tercerabut dari khazanah dan tradisi keilmuan Islam. Karena niatnya seperti itu, wajar jika hasil kesimpulannya jauh berbeda dari ulama-ulama terdahulu. (Bersambung)

* Tulisan berikutnya membahas agenda di balik gerakan liberalisme Islam

 

Redaktur: Bambang S
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Fahmi SalimliberalMIUMI
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Narkoba, Orang Tua dan Generasi Kita
Tulisan selanjutnya Khalifah Umar Bin Khatab, Gubernur dan Sekretaris non-Muslim [1]

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Putin Tawarkan Pembebasan Utang Bagi yang Mau Gabung Tentara

Berita
31 Mei 2026 05:45
Warga Yunani Didakwa Membantu Iran untuk Menarget Jurnalis di Inggris
‘Israel’ Perketat Aturan Masjid, Pasang Pengeras Suara Harus Izin Zionis
Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
Malaysia Resmi Batasi Media Sosial Anak, Siapkan Denda Rp45 Miliar bagi Pelanggar

Terbaru

  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina

Mungkin Anda Juga Suka

Wawancara

Pakar Anti Feminisme Dr Norsaleha Mohd Salleh: Liberalisme dan Feminisme Itu Satu Paket

24 Juli 2021 17:03
baitul maqdis
Wawancara

Dr. Khalid el-Awaisi: “Kini Banyak Orang Islam Berhati Zionis”

11 Juni 2021 09:55
Masjid Al-Aqsha
Wawancara

Akademisi Gaza: “Dihujani Berton-ton Bom, Kami akan Tetap Bersandar pada Allah untuk Perjuangkan Masjid Al-Aqsha”

22 Mei 2021 10:45
Wawancara

Ahmad Sarwat: Salafi Termasuk Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah

15 April 2021 11:06
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?