Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Wawancara

ACT: Mengaitkan Lembaga Kemanusiaan dengan ISIS adalah Konyol

Ahmad
Terakhir diupdate: 25 Februari 2017 07:09 7:09 am
Ahmad
Dipublikasikan 25 Februari 2017 07:00
Bagikan
Manager Media Network Development Aksi Cepat Tanggap (ACT), Bambang Triyono bersama keluarga Suriah
Bagikan

KAPOLRI Jenderal Tito Karnavian belum lama ini menuding lembaga kemanusiaan yang mengirimkan bantuan kepada warga Suriah korban perang sebagai upaya membantu teroris. Aksi Cepat Tanggap atau ACT, lembaga kemanusiaan yang sudah 6 tahun belakangan ikut sibuk menanggulangi persoalan kemanusiaan di berbagai wilayah konflik berbagi cerita kepada hidayatullah.com.

“Banyak juga bantuan lembaga internasional seperti UNHCR yang malah jatuh ke tangan pasukan rezim. Apakah berarti PBB dukung Assad?” demikian petikan wawancara Bambang Triyono. Manager Media Network Development Aksi Cepat Tanggap (ACT). 

Sejak kapan ACT menjalankan Misi Kemanusiaan ke Suriah?

ACT sudah sejak konflik di sana pecah di tahun 2011 lalu. Sejak itu kami punya kampanye untuk warga Suriah yang menjadi korban konflik itu menggunakan hashtag kampanye #LetsHelpSyria, sekaligus global respons dengan tajuk Sympathy of Solidarity (SOS) for Syria.

Baca: ACT Kembali Kirim Tim Relawan ke Suriah

Sejak tahun 2011 lalu sampai tahun 2017 ini Tim SOS Syria yang sudah berangkat implementasi langsung sudah yang ke-12 (SOS Syria XII).

Baca Juga

Pengamat Politik Internasional UI Sofwan Al-Banna Menampik Adanya Hubungan Kuat Hamas dengan Syiah
Kisah Hafizh Belajar Menghafal Qur’an: “Pahitnya” Bambu, Manisnya Pisang Goreng [2]
Kisah Hafizh Belajar Menghafal: Al-Qur’an Dieja Pakai Bahasa Latin [1]
Sinyo Egie, Pendiri Peduli Sahabat:  Pelaku LGBT Harus Punya Niat dan Keinginan Sembuh
Kisah Ustadz Hasan Ibrahim Bergabung Hidayatullah: Masuk Hutan, Batalkan Kuliah Madinah

Maka bisa dilihat dari angka, selama kurang lebih enam tahun terakhir ini, rata-rata dalam setahun ACT memberangkatkan Tim sebanyak 2 kali. Tim ini bekerja bersama mitra-mitra lokal di Turki maupun di Suriah sendiri.

Bantuan apa saja yang diberikan?

Kami memberikan bantuan pangan, kesehatan, bantuan sandang untuk menghadapi musim dingin, bantuan pendidikan, dan sebagainya. Meski dalam setahun sampai 2 kali ada Tim yang langsung terjun ke sana, ACT juga meneruskan amanah donasi publik rakyat Indonesia dengan bekerja sama melalui mitra-mitra di Turki dan Suriah.

Sejauh mana manfaat bantuan dari lembaga-lembaga seperti ACT untuk mereka di Suriah?

Ya tentu saja bemanfaat. Sejumlah bentuk implementasi bantuan yang saya sebut di atas itu, sebelumnya berdasarkan asesmen atau laporan dari mitra atas kebutuhan para penerima manfaatnya. Singkatnya, sesuai kebutuhan mereka.

Kalau di Indonesia sendiri lembaga yang menyalurkan bantuan ke Suriah ada berapa banyak?

Ada Rumah Zakat dan lembaga lain seperti Dompet Dhuafa, dan lainnya.

Bagaimana dengan tuduhan penyaluran bantuan ini juga kepada “teroris”?

Kami adalah lembaga kemanusiaan. Kami tentu saja selalu mencari tahu peta konflik di sana. Mana saja wilayah atau provinsi yang dikuasai pihak-pihak yang berkonflik.

Berkaitan teroris, sekarang berpulang kepada pihak penuduh itu, apa arti “teroris” bagi mereka?

Dalam melihat problem yang tejadi di Suriah, tentu kita tidak bisa langsung mengatakan bahwa mereka yang menjadi opisisi atau warga suriah yang menginginkan perubahan adalah “teroris”. Seperti halnya di Indonesia, apakah kelompok yang menginginkan perubahan bisa kita sebut “kelompok makar” atau separatis?

Apakah kemungkinan ada bantuan yang nyasar?

Ini juga seperti tuduhan beberapa waktu lalu, bahwa ada satu lembaga di Indonesia yang bantuannya “nyasar” ke markas pihak oposisi. Bantuan nyasar tidak serta merta disebut sebagai bantuan untuk “teroris”. Ini tuduhan gegabah. Kalau ACT, sejauh ini, penerima bantuan adalah warga sipil, baik yang berada di kamp-kamp pengungsian di Suriah maupun di Turki, maupun juga warga sipil di daerah rural kota Aleppo atau Idlib.

Baca: Ketua FOZ: Lembaga Kemanusiaan Salurkan Bantuan ke Suriah untuk Korban Perang

Persoalan bahwa ada bantuan nyasar ke (katanya) markas kelompok perlawanan tertentu di sana, ya tidak bisa serta merta dianggap membantu “teroris”. Sudut pandangnya apa dulu. Kenapa saya bilang nyasar? Saya kira lembaga itu tidak bodoh (kalau memang niatnya) menyalurkan bantuan untuk kelompok perlawanan lalu mencantumkan dengan jelas identitas lembaganya di kemasan bantuan.

Bantuan kemanusian korban perang yang jatuh ke tangan Rezim Bashar al Assad. Akankah UNHCR disebut pro Bashar? [Foto CNN]
Banyak juga bantuan lembaga internasional seperti UNHCR yang malah jatuh ke tangan pasukan rezim. Apakah berarti PBB dukung Assad? Kemungkinan dicuri, dirampas, dan lainnya kan selalu ada.

Jadi menurut Anda, mengapa lembaga kemanusiaan ini bisa dituduh membantu “teroris”?

Pertanyaan itu cocoknya ditanyakan kepada mereka yang bersemangat menuduh, plus kepada aparat yang dalam beberapa hari ini malah lugas mengaitkan lembaga kemanusian dengan ISIS. Konyol ini.

Setahu saya, karena memang kami cukup tahu bagaimana jalur sebuah lembaga resmi, yakni lembaga yang punya identitas jelas, punya legalitas, dan sebagainya. Lembaga-lembaga Indonesia yang ingin menyalurkan bantuan untuk warga Suriah selalu bermitra dengan lembaga atau NGO di Turki. Adanya banyak NGO, salah satunya IHH. Sama halnya dengan lembaga asing yang mau memasukkan bantuan ke Indonesia.

Kalau ACT sendiri dalam misi kemanusiaan Suriah apa ada hubungannya dengan Ustad Bachtiar Nasir?

Belum pernah ada. Sampai kemudian sekarang muncul berita soal lembaganya dan sosoknya yang sekarang sedang diframing ini.

Hubungan ACT untuk isu bantuan bagi warga Suriah, selama ini hanya dengan publik atau donor dari individual (yang sebagian besar muslim). Kami belum pernah ada kerjasama dengan lembaga lokal (Indonesia) kalau yang dimaksud saat implementasi atau menyalurkan bantuan.

Baca: IHR Akui Difitnah Sejumlah Media Pro Rezim Bashar di Indonesia terkait Bantuan ke Suriah

Kalau ada berita yang mengaitkannya dengan ISIS, bukan cuma teroris. Itu gegabah dan kurang berdasar. Tapi peran media (yang mengutip) perlu kita cermati juga. Kadang media juga suka memelintir.

Apakah menurut Anda mengaitkan bantuan kemanusiaan ke Suriah dengan teroris adalah bentuk politisasi?

Sebagian besar publik saya yakin mengatakan iya. Ini pandangan pribadi. Menurut saya, pasca gerakan umat berseri itu (Aksi 411, Aksi 212 dst) kita bisa melihat siapa mereka-mereka yang berdiri berseberangan dengan umat. Kelompok atau bahkan aparat.

Kita dan banyak lembaga kemanusiaan membantu siapa saja yang perlu bantuan, dari Rohingya, Suriah, sampai Tolikara. Bukankah akhlaq Islam mengajarkan itu? Jadi apa yang salah? *

Redaktur: Ahmad
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:ACTAksi Cepat TanggapBantuan ke Suriahbantuan UNHCR di Suriahbashar al assadMilisi Syiah di Suriahpembantaian di Suriahrelawan kemanusiaan Suriahterorisme
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Anggota Dewan Kemanan Nasional AS Beragama Islam Mengundurkan Diri
Tulisan selanjutnya Pentingnya Kunjungan Raja Salman bagi RI dan Arab Saudi

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Kerbau Donald Trump Batal Disembelih karena Alasan Keamanan

Berita
31 Mei 2026 01:20
Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
Kazakhstan Menawarkan Diri untuk Menyimpan Cadangan Uranium Iran
Pengadilan Kenya Tolak Rencana Amerika Serikat untuk Mendirikan Fasilitas Karantina Ebola di Negaranya

Terbaru

  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina

Mungkin Anda Juga Suka

Wawancara

Pakar Anti Feminisme Dr Norsaleha Mohd Salleh: Liberalisme dan Feminisme Itu Satu Paket

24 Juli 2021 17:03
baitul maqdis
Wawancara

Dr. Khalid el-Awaisi: “Kini Banyak Orang Islam Berhati Zionis”

11 Juni 2021 09:55
Masjid Al-Aqsha
Wawancara

Akademisi Gaza: “Dihujani Berton-ton Bom, Kami akan Tetap Bersandar pada Allah untuk Perjuangkan Masjid Al-Aqsha”

22 Mei 2021 10:45
Wawancara

Ahmad Sarwat: Salafi Termasuk Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah

15 April 2021 11:06
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?